Yudhoyono dan Labirinnya

 
Oleh: M. Alfan Alfian


Entah mengapa tatkala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan menteri-menteri yang tergabung di dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, saya teringat salah satu novel menarik sastrawan Nobel, Gabriel José García Márquez, The General in His Labyrinth (1989). Novel ini mengisahkan hari-hari terakhir pemimpin pembebasan Kolombia, Simón Bolívar. Sang jenderal dihadapkan pada labirin permasalahan yang diciptakannya sendiri agar ia mampu memenangi strategi. Novel ini setidaknya mengingatkan pembaca bahwa entah mengapa orang besar suka menciptakan labirinnya sendiri.

Dalam mitologi Yunani, labyrinth (labyrinthos) merupakan istilah yang mengacu pada suatu struktur desain bangunan yang diciptakan oleh Daedalus, yang fungsinya untuk menahan Minotaur, makhluk setengah manusia setengah kerbau yang akhirnya dibunuh oleh pahlawan Athena, Theseus. Daedalus telah membuat labirin tersebut demikian rumit sehingga bahkan ia sendiri hampir tidak bisa melarikan diri setelah membangunnya. Adapun Theseus dibantu oleh Ariadne, yang memberikan gulungan benang sebagai petunjuk untuk dapat menemukan jalan keluar dari labirin yang rumit itu.

Dalam perkembangannya, labirin dipahami sebagai taman yang dirancang dengan banyak percabangan yang rumit penuh teka-teki dengan pilihan jalur dan arah yang penuh jebakan. Siapa yang masuk ke bangunan labirin, akan banyak menemukan jalan tertutup, dan susah keluar, walaupun ada jalan keluarnya. Siapa bisa keluar dari labirin, sepertinya ia telah berhasil mengurai benang kusut.

Gaya Yudhoyono
Apakah Presiden Yudhoyono telah salah mengambil keputusan? Tidak dapat dikatakan demikian, walaupun masing-masing orang, apalagi pengamat politik, punya catatan masing-masing. Presiden Yudhoyono punya hak prerogatif untuk mengangkat siapa saja menjadi bagian dari KIB II. Termasuk, pada menit-menit terakhir, ketika Presiden memutuskan mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Nila Juwita Anfasa Moeloek.

Presiden memiliki gaya tersendiri dalam merekrut para calon menteri, dengan cara memanggil mereka ke kediaman di Cikeas, memberi petunjuk, membuat pakta integritas yang harus diteken, serta melakukan tes kesehatan yang, sengaja atau tidak demonstratif. Wartawan meliput adegan-adegan itu, dan menayangkannya seperti sebuah siaran infotainment. Menurut Hatta Rajasa, yang kini menjabat Menteri Koordinator Perekonomian, apa yang dilakukan oleh Presiden Yudhoyono itu merupakan sebuah tradisi baru.

Presiden Yudhoyono, bagaimanapun, telah mampu menaikkan pamor Cikeas sebagai salah satu "pusat kekuasaan" penting saat ini, sebagaimana Cendana pada masa Orde Baru. Tetapi tentu saja Yudhoyono berbeda dengan Soeharto, baik dalam konteks kehadirannya ke panggung politik maupun gaya kepemimpinannya. Dalam memilih menteri, Soeharto melakukannya secara diam-diam, walaupun yang dipilihnya ada kalanya mengejutkan.

Yudhoyono hadir tak lepas dari konteks popularitas tokoh. Barangkali, sebagaimana dicatat juga oleh Fachry Ali, dalam sejarah kepresidenan kita, dalam hal-hal tertentu, Yudhoyono mampu menyejajari popularitas Soekarno, presiden Indonesia pertama kali. Yudhoyono merupakan presiden yang pertama kali dipilih melalui pemilihan umum langsung, dan derajat keterpilihannya pada pemilihan presiden 2009 lebih dari 60 persen, sehingga ia dan Boediono sebagai pasangannya melenggang sebagai pimpinan nasional 2009-2014. Ciri politik pemerintahan Presiden Yudhoyono dan KIB II kali ini lain dengan sebelumnya. Kali ini Yudhoyono sudah lebih by design dalam menghadirkan diri dan membentuk kabinet, ketimbang lima tahun lalu yang kesannya lebih banyak yang by accident, termasuk ketika memilih pasangannya, yakni Jusuf Kalla. Seperti diprediksi banyak pengamat, hubungan politik Yudhoyono-Kalla tak berlanjut, dan kini tampillah ke panggung politik, Boediono, ekonom yang dikenal tidak suka banyak bicara.

Labirin
Karena by accident, tampaknya eksistensi Kalla bagi Yudhoyono seperti sebuah labirin. Tentu dengan tidak mengecilkan peran Kalla, kesannya pecah kongsinya Yudhoyono-Kalla karena Yudhoyono merasa kurang lagi pas bersanding dengan sosok yang berkarakter saudagar. Ciri persaingan pengaruh memang terasa pada tahun terakhir pemerintahan Yudhoyono-Kalla. Dan, tatkala Yudhoyono memutuskan tak lagi berpasangan dengan Kalla, sepertinya Yudhoyono berhasil keluar dari labirinnya.

Tetapi, tatkala KIB II diumumkan, dan ternyata komposisi politikus lebih dominan ketimbang teknokrat atau profesional, sementara kalangan menilai bahwa Yudhoyono tidak menggunakan kapasitas optimalnya dalam membentuk kabinet ahli. Dengan kata lain, kabinet yang disusunnya bisa menjadi bumerang bagi masa depan pemerintahannya, mengingat terlampau mengandalkan pembagian kekuasaan (power sharing) dengan partai-partai politik pendukung, dan dalam beberapa pilihan tanpa mengedepankan kompetensi. Yudhoyono telah menciptakan labirinnya.

Pihak Yudhoyono sendiri lebih menginginkan suatu postur kabinet kerja, dan dengan demikian tidak ingin terjebak pada polemik kabinet ahli (zaken kabinet). Karena itulah susunan kabinet yang mengakomodasi para politikus partai dianggap sudah pas. Yang penting adalah kinerjanya kelak, yang akan terus dievaluasi. Dalam logika ini, justru Yudhoyono tidak hendak membuat labirin, tatkala para menterinya terikat pada pakta integritas yang telah mereka teken. Tapi, kalaupun dikatakan Yudhoyono membuat labirin, ia sudah memegang kuncinya.

Apakah Yudhoyono sedang membuat labirinnya atau tidak tentu tergantung penafsiran masing-masing. Tetapi, tentu saja sebagaimana presiden-presiden sebelumnya, Yudhoyono punya kelebihan dan kekurangan. Setidaknya Yudhoyono di masa kini dapat belajar dari pengalaman-pengalaman presiden sebelumnya. Pada masa lalu, Soekarno terjerat oleh labirin yang diciptakannya, yakni poros politik Nasakom (Nasional, Agama, Komunis). Entah, setuju atau tidak, Soeharto pun terjerat labirin Dana Moneter Internasional (IMF). Presiden B.J. Habibie kurang beruntung dengan kasus jajak pendapat Timor Timur. Sementara itu, labirin KH Abdurrahman Wahid terlampau berkelok-kelok, rumit dan berpuncak pada Maklumat Presiden yang minus dukungan. Adapun Presiden Megawati Soekarnoputri tak mampu mempertahankan popularitas pemerintahannya dan gagal terpilih kembali dalam pemilihan presiden langsung.

Yang menjadi permasalahan utama bagi Yudhoyono pasca-penyusunan kabinetnya adalah bagaimana membuat KIB II efektif. Yudhoyono harus membuktikan bahwa ia tidak sedang membuat labirin. Karena itu, capaian 100 hari kerja ini sangat penting untuk dilihat, apakah personalia KIB II mampu menunjukkan performa sebagai bagian integral dari sebuah kabinet kerja. Menteri yang kinerjanya kurang bagus layak dievaluasi dan dipertimbangkan untuk diganti. Tetapi, kalaupun akan ada beberapa kali reshuffle kabinet, hendaknya Yudhoyono lebih mengedepankan perspektif kompetensi, selain tentu saja keseimbangan politik. Dengan demikian, Yudhoyono tetap dapat keluar dari labirin yang diciptakannya.

URL Source: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/10/28/Opini/krn.20091028.18

M. Alfan Alfian
DOSEN FISIP UNIVERSITAS NASIONAL, JAKARTA

 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail