SEUSAI PEMASANGAN stent dalam darah koronernya, perempuan yang masih tampak
segar mengaku tidak merasa pun. ?Enggak terasa apa-apa. Agak sakit sedikit cuma
waktu selangnya (kateter) ditusukkan ke tangan,? katanya. baru saja menjalani
?reparasi? pembuluh koroner selama 30 menit. Ahli jantung dr Utojo Lubiantoro
SpJP pun meyakinkan, pasien itu memerlukan rawat inap 1-2 hari saja. Setelah
pulang dia diperbolehkan beraktivitas kembali seperti biasa. Dia hanya perlu
mengonsumsi obat clopidogrel dan aspirin.
Perempuan berusia 55 tahun penderita penyakit jantung koroner (PJK) itu
menjadi "model" demonstrasi langsung pembalonan dan pemasangan stent dalam
seminar Percutaneous Coronary Intervention (PCI) di Rumas Sakit Siloam
Gleneagles, Karawaci, Tangerang, Sabtu (27/9).
Pasien PJK itu telah menderita nyeri dada dan sesak napas sekitar setahun
terakhir. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan, pembuluh darah koroner sebelah
kiri depan menyempit 95 persen. Sebelum dimasukkan balon, pada layar monitor
tampak pembuluh darah pasien itu sudah sedemikian sempit. Nyeri dada yang
dideritanya dikategorikan cukup parah.
Selama ini kateterisasi dengan pembalonan dan pemasangan stent untuk membuka
penyumbatan pembuluh darah koroner jantung tanpa pembedahan ternyata masih
menghadapi hambatan utama. Hal itu terjadi ketika pembuluh darah koroner
menyempit kembali (restenosis) setelah pemasangan stent.
Namun untunglah, kini risiko kemungkinan restenosis dapat dikurangi hingga 5
persen dengan menanamkan semacam cincin spiral (stent) yang dilapisi obat ke
dalam pembuluh darah koroner yang menyempit. "Penyakit jantung koroner karena
penyumbatan dapat menyebabkan serangan jantung yang sering berakibat kematian,"
kata Utojo.
Teknik kateterisasi adalah memasukkan sebuah selang fleksibel panjang dan
tipis (kateter) ke dalam pembuluh darah arteri di lipatan paha atau tangan.
Kateter kemudian didorong masuk hingga ke pembuluh darah utama yang keluar dari
aorta, tempat muara dari arteri koroner.
Setelah itu, pada bagian pembuluh darah koroner yang menyempit digelembungkan
sebuah balon (pembalonan) yang akan mendesak timbunan lemak penyebab penyumbatan
pembuluh darah (plak aterosklerosis). Desakan balon khusus itu membuka pembuluh
darah yang menyempit sehingga suplai darah dan oksigen ke otot jantung lancar
kembali.
Langkah selanjutnya memasukkan stent yang terbuat dari stainless steel. Stent
tersebut menjaga agar pembuluh arteri tetap terbuka. Stent yang ditanamkan di
dalam pembuluh lama-kelamaan akan menyatu dengan dinding pembuluh darah.
Sementara balon kateter ditarik kembali keluar. "Namun, selama ini sering
terjadi restenosis pada tempat yang sama. Sepuluh tahun terakhir para ahli
mencoba mengatasi restenosis dengan obat-obatan oral dan vitamin E dosis tinggi.
Semua usaha itu gagal," kata dr Utoyo. Restenosis biasanya terjadi dalam tiga
sampai enam bulan setelah penanaman stent, namun sangat jarang terjadi setelah
12 bulan.
Restenosis terjadi secara lokal sehingga akhirnya para ahli pun mencoba
memberi obat secara lokal melalui sistem kateter. Tekniknya, stent yang akan
ditanamkan di dalam pembuluh darah yang menyempit dilapisi dengan obat. Jenis
obat yang saat ini direkomendasikan adalah sirolimus dan paclitaxel. Obat
tersebut mampu menghentikan pertumbuhan sel.
PENYEMPITAN atau sumbatan di dinding pembuluh darah disebabkan oleh deposit
lemak, terutama kolesterol. Penyempitan itu berlangsung selama bertahun-tahun
terus tumbuh dari dinding pembuluh darah ke dalam lumen (rongga). Pola hidup
tidak sehat diyakini sebagai penyebab penting PJK.
Restenosis disebabkan karena sifat elastis dinding pembuluh darah dan akibat
terbentuknya fibrosis (jaringan ikat) pada dinding pembuluh darah. Terbentuknya
fibrosis juga berakibat penyusutan dinding pembuluh darah. Selain itu,
restenosis juga disebabkan karena terbentuknya jaringan baru pada dinding
pembuluh darah. Kesemuanya sebenarnya merupakan proses "penyembuhan luka" lokal
akibat pecahnya plak aterosklerosis setelah pembalonan dan pemasangan stent.
Prosedur kateterisasi tidak membius pasien secara total, melainkan hanya bius
lokal di kulit tempat kateter dimasukkan. Pasien tidak akan merasakan sakit
ketika kateter merambat masuk sepanjang pembuluh darahnya. Sebab, pembuluh darah
tidak memiliki saraf nyeri.
Menurut Utojo, di seluruh dunia saat ini pembalonan dan pemasangan stent
digunakan pada lebih dari satu juta kasus per tahun. Sejak populernya teknik
itu, trend operasi bedah pintas koroner (dikenal dengan operasi by pass jantung)
menurun. Sayangnya, menurut Utojo, peralatan medis teknik tersebut masih harus
diimpor dan cukup mahal. Terlebih sebagian peralatan medis dikenai pajak barang
mewah.
"Sehingga hanya orang-orang berduit saja yang lebih punya kesempatan.
Sementara di Malaysia, negara menjamin pembiayaan bagi orang tak mampu.
Peralatan medis pun tidak dikenai pajak barang mewah," ungkap Utojo.
Teknik kateterisasi dengan balon pertama kali dilakukan oleh dokter Jerman
ahli jantung yaitu Andreas Gruentzig pada seorang pasien laki-laki bernama
Adolph Bachman. Terobosan bersejarah tersebut dilakukan Gruentzig di University
Hospital di Zurich, Swiss, pada 16 September 1977.
Setelah hampir tiga dekade, teknik tersebut berkembang dengan tambahan stent.
Paling baru ya itu tadi, stent berlapis obat yang terbukti menurunkan risiko
restenosis dapat dikurangi hingga 5 persen. (B14)
URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/29/iptek/589410.htm
|