Aktivis Muda Sebaiknya di Luar Partai

 

Jakarta, Kompas - Para aktivitas muda sebaiknya tidak bergabung ke dalam partai- partai politik peserta Pemilu 2004. Peran mereka justru akan lebih efektif dan nyata jika mereka bergabung dalam kelompok-kelompok masyarakat sipil (civil society) dan kelompok-kelompok penekan (pressure group). Sebaliknya, mereka akan kecewa jika ingin mewujudkan idealisme dalam partai- partai politik yang umumnya masih kental dengan semangat konspirasi.

Pengamat sosial politik, Moeslim Abdurrahman, menyampaikan hal itu, Selasa (27/1), mengomentari maraknya aktivis-aktivis muda masuk ke sejumlah partai politik (parpol) peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2004.

"Apakah mereka akan menjadi kekuatan yang begitu vokal jika bergabung di parpol dan duduk di DPR? Konspirasi elite dalam partai masih kuat sekali. Saya ragu mereka bisa mengubah. Saya takut mereka kecewa," kata Moeslim.

Moeslim mencontohkan Bara Hasibuan, aktivis muda, yang keluar dari Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 2001 karena menganggap PAN tidak konsisten memperjuangkan agenda reformasi. Bara Hasibuan kini bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjadi calon legislatif partai itu. Moeslim berpendapat tidak ada perbedaan menonjol dari kedua partai itu atas hal yang dipersoalkan Bara sebelumnya.

Selain Bara Hasibuan, sejumlah aktivis mahasiswa terjun ke dunia politik dengan menjadi calon anggota legislatif (caleg). Misalnya, Nusron Wahid yang menjadi caleg dari Partai Golkar dan Rama Pratama yang bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Moeslim mengatakan, aktivis-aktivis muda merupakan tenaga segar yang dapat berperan secara maksimal di luar parpol dalam kondisi yang lebih bebas dan lebih merdeka. Tenaga-tenaga kreatif ini jika masuk parpol, akan terkooptasi orang- orang partai. Selain itu, aktivis- aktivis muda ini akan sangat terhambat disiplin parpol.

Untuk saat ini, kata Moeslim, aktivis-aktivis muda itu harus bersabar menunggu saat yang tepat bergabung dengan parpol. Parpol yang dipilih pun harus merupakan partai yang ideal dan memberikan ruang cukup.

Moeslim juga mempertanyakan penempatan sebagian besar aktivis muda yang menjadi caleg dalam nomor urut besar. Menurut dia, nomor urut para aktivis muda merupakan nomor "figuran". Moeslim melihat partai-partai politik hanya ingin memberi kesan kepada masyarakat bahwa mereka bersedia mengakomodasi politisi muda sehingga tidak berkesan konservatif.

Dalam Debat Politisi Muda bertajuk "Mampukah Politisi Muda Membawa Perubahan" yang diselenggarakan Center for Responsive Politics, Selasa di Jakarta, Bara Hasibuan politisi muda dan caleg dari PKB mengatakan, politisi muda jangan terlalu bergantung pada parpol. Para politisi muda di DPR dapat membuat koalisi lintas partai dalam menyikapi berbagai isu.

"Kesetiaan terhadap partai ada, tetapi kita harus menyeimbangkan dengan sikap independen. Jika harus memilih antara kepentingan partai dan kepentingan masyarakat, yang harus dikorbankan adalah kepentingan partai," kata Bara.

Bara menambahkan, kehadiran banyak politisi muda sebagai caleg menawarkan banyak perubahan di tengah apatisme masyarakat terhadap pemilu. Dia menampik peraturan perundang-undangan saat ini, seperti masih adanya fraksi sebagai kepanjangan tangan parpol di DPR dan mekanisme pergantian antarwaktu, yang akan menghapuskan keinginan para politisi muda untuk membawa perubahan di parlemen. (K06)

URL Source: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/31/pemilu/826503.htm


 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail