Mereka
Lolos dari Maut
DI bulan Oktober 2003 ada
berita: sebagian ayam petelur di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dan Bogor,
Jawa Barat, mati akibat serangan penyakit aneh. Ismail, peternak ayam potong
dari Desa Handapherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mulai waswas. Hati
kecilnya berkata penyakit itu flu burung.
"Saya tidak tahu
alasannya, namun ketika pemerintah saat itu mengumumkan jika penyakit tersebut
adalah tetelo, hati kecil saya tidak dapat menerimanya," kata Ismail.
Hal serupa dirasakan oleh
sebagian teman Ismail, sesama peternak di Priangan Timur, terutama Kabupaten
Tasikmalaya dan Ciamis. Di kedua kabupaten itu saat ini terdapat sekitar 15.000
peternak ayam potong. Produksi mereka 2 juta ekor setiap minggu, 10 persen dari
produksi ayam potong secara nasional.
Akhir Oktober 2003, Ismail
mengumpulkan 25 peternak ayam binaannya yang tersebar di Ciamis dan Kota Banjar,
meminta mereka memerhatikan perkembangan kesehatan ayam. Yang sakit atau
berperilaku aneh harus segera dilaporkan. Kebersihan kandang ditingkatkan.
Penyemprotan desinfektan
yang sebelumnya ketika kandang akan digunakan dan saat ayam berumur tiga minggu
ditingkatkan menjadi setiap minggu. Jumlah ayam yang dipelihara di tiap kandang
juga dikurangi. Sebelumnya, setiap satu meter persegi diisi 10 ekor ayam,
sekarang hanya delapan ekor.
Untunglah semua nasihat
itu dituruti.
Sistem upah peternak di
Priangan dinamai maklun. Dalam sistem ini, peternak hanya bermodal kandang dan
tenaga untuk memelihara ayam sampai panen tiba. Durasinya sekitar 35 hari.
Bibit, pakan, dan obat ditanggung oleh pemodal. Peternak akan mendapat upah Rp
600-Rp 800 dari setiap ekor ayam yang dipanen.
Di kalangan peternak
binaan Ismail, setiap kandang berukuran rata-rata 200 meter persegi. Letaknya
dekat dengan rumah peternak. Dengan begitu, kebersihan kandang mau tak mau
menjadi bagian penting setiap peternak.
Model nasihat Ismail
rupanya diterapkan pada hampir semua peternak di Priangan Timur. Meski berdampak
pada meningkatnya biaya produksi, langkah-langkah antisipasi itu diduga menjadi
salah satu sebab mengapa virus flu burung sampai sekarang belum menyerang
peternakan ayam di Priangan Timur.
Herry Santoso, seorang
peternak ayam, menduga sistem penjualan ayam yang selama ini dilakukan para
peternak di Priangan Timur bisa jadi salah satu faktor mengapa peternakan di
daerah itu belum ada yang terserang flu burung.
Katanya, selama ini ribuan
telur dari Blitar, Bogor, dan Tangerang setiap hari dibawa ke Jakarta oleh
ratusan truk milik para bandar. Setelah membongkar muatan di Jakarta, truk
berikut peti yang digunakan untuk menyimpan telur itu pulang lagi ke peternakan
untuk mengambil telur lainnya. Karena yang membawa telur umumnya para bandar,
ada kemungkinan peti atau truk tertukar.
Tak jarang truk atau peti
yang sebelumnya digunakan untuk membawa telur dari Jawa Timur pulang ke
peternakan ayam di Bogor. Demikian sebaliknya.
Truk atau peti itu mungkin
ada yang sudah terinfeksi virus flu burung. "Keadaan inilah yang membuat ayam
petelur banyak yang terserang flu burung," kata Herry yang selama ini rutin
memasok daging ayam ke 12 gerai McDonald’s yang ada di Bandung dan Jakarta serta
beberapa rumah makan cepat saji lain.
Sistem penjualan seperti
itu, menurut Herry, tidak berlaku di Priangan Timur. Selama ini para peternak
ayam di Priangan selalu memiliki sendiri truk berikut perlengkapannya untuk
membawa ayam ke Jakarta atau Bandung. Saat ini setiap hari sekitar 200 truk dari
Ciamis dan Tasikmalaya berangkat ke Bandung atau Jakarta membawa ayam dengan
daya angkut 2.000 ekor per truk. Sepulang dari Jakarta atau Bandung, truk-truk
berikut kandang kosong langsung dicuci bersih dan disemprot dengan desinfektan.
KEBIASAAN para peternak di
Priangan yang umumnya hanya memelihara ayam potong diduga juga menjadi salah
satu sebab mengapa wabah flu burung belum merambah daerah itu. Keterbatasan
modal menjadi alasan mereka memelihara ayam potong, bukan ayam petelur, yang
dalam umur 35 hari sudah bisa dijual. Ayam petelur baru berproduksi setelah
berusia lima bulan.
Siklus yang relatif
singkat di usaha ayam potong, menurut Herry, membuat kontrol dan keputusan lebih
cepat diambil. Ketika penyakit aneh muncul atau harga sedang tidak
menguntungkan, ayam dapat segera dijual. Produksi pun dapat dihentikan sampai
keadaan aman. "Yang begini tidak dapat kami lakukan jika beternak ayam petelur,"
kata Herry.
Peternakan di Priangan
Timur umumnya usaha sampingan. Sebagian besar dari sekitar 800 peternak binaan
Herry punya pekerjaan dan penghasilan lain: bertani atau pegawai negeri.
Kandang ayam di Priangan
dibuat dengan sistem longyam: di bawah kandang dibuat kolam untuk memelihara
berbagai ikan air tawar seperti ikan mas atau mujair. Dengan sistem ini, bila
kandang kosong, peternak masih akan memperoleh penghasilan dari ikan. Berbagai
kebetulan itu membuat peternak di Priangan Timur optimistis menghadapi wabah flu
burung. (NWO)
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/31/Fokus/828307.htm
Page 1 of 5 | Go to page 1 |
|