Timor Lorosae Pascakemerdekaan

 
Oleh: Florencio Mario Vieira


BERSEMBOYAN mate ka moris ukun rasik an (mati atau hidup mereka sendiri), Viva Timor Leste pada 20 Mei 2002 terwujud setelah UNTAET memberi kedaulatan penuh kepada Pemerintah RDTL hasil pemilu 30 Agustus 2001.

Pemilu itu dimenangkan Fretilin dengan suara mayoritas 57,37 persen (55 dari 88 kursi) sehingga Sekjen Fretilin Mari Alkatiri ditetapkan sebagai Perdana Menteri dan Presiden Fretilin Lu Olo sebagai Ketua Parlemen Nasional.

Mungkin menjadi kebanggan tersendiri bagi rakyat Timor Lorosae (TL) yang berjuang memerdekakan diri sebagai negara pertama pada milenium ketiga dari penjajahan Portugal dan "pendudukan Indonesia", di tengah persaingan global akibat gelombang informasi, bahkan dalam transisi menuju gelombang peradaban produktivitas sekaligus gelombang imajinasi (Lynch D, Kordis PL. Strategy of The Dolphin, New York 1988). Ini tantangan besar bagi Timor Lorosae yang memacu diri dalam keterlibatannya dalam skenario kepentingan kapitalis, sehingga kemungkinan bisa terhindar dari dominasi negara kuat atas negara lemah dalam bentuk neokolonialisme.

Permasalahan aktual

Timor Lorosae yang sedang memasuki masa transisi menghadapi pekerjaan rumah berat, antara lain soal ketatanegaraan (Perundangan-undangan, dan sebagainya), masalah politik (toleransi dan kedewasaan politik), masalah ekonomi (pengangguran 70 persen disertai diskriminasi dalam memperoleh pekerjaan), masalah pendidikan (Xanana "I meet parents every week in my office who come to me and say, we don't have money to educate our children." AP, 04/12), masalah sosial (kompensasi kesejahteraan sosial bagi penyandang cacat fisik, janda dan yatim-piatu, award dan reward bagi pejuang gerilya dan clandestein kelas marginal); soal budaya (perubahan mental dan perilaku dari perjuangan untuk pembebasan dengan menghalalkan kekerasan ke pola perilaku dialogis), soal kesehatan (minimnya layanan kesehatan terutama di tingkat subdistrik, puskesmas sisa integrasi belum digunakan lagi karena kekurangan tenaga dan peralatan medik).

Komoditas politik

Dinamika politik internal RDTL, gesekan kepentingan antar-kelompok dan politik amat menonjol, bahkan dapat dikatakan mulai ada perpecahan antara Presiden, Kabinet, dan Parlemen. Ini terlihat dari kritik Presiden Xanana Gusmao atas pemerintah dan parlemen dalam pidato kenegaraan. "Dalam kondisi Timor Leste sekarang, elite negara mestinya menunjukkan kekompakan guna menjamin kekokohan pemerintah. Pemerintahan sipil di bawah partai Fretilin telah berjalan namun belum menunjukkan peningkatan dalam banyak faktor," kata presiden Xanana dalam pidato kenegaraan. (Lian Maubere, edisi 44/Juni 2002)

Adanya upaya kelompok Falintil FBA (Falintil Baixo de Apoio-tidak terekrut dalam FDTL/TNI-nya RDTL) dan kasus Wailili di Baucau (penembakan atas salah satu tokoh eks clandestein pro kemerdekaan yang pernah melindungi Xanana) kian menunjukkan, stabilitas politik dalam negeri TL belum tercipta baik.

Pernyataan Panglima FDTL Taur Matan Ruak bahwa ada pihak-pihak yang berusaha memancing dan melakukan kekerasan atas anggota FDTL menunjukkan, tentara mulai gelisah dengan ketidakjelasan pemerintah sipil, di bawah Marie Alkatiri. (Militer yang Gelisah, Lian Maubere, edisi 44/Juni 2002)

Kepentingan politik itu diperkuat pernyataan Xanana dalam jumpa pers, "There are people behind all of these things. Some people are supporting these disturbances and destruction, but we don't know who they are" (AP, 4/12/2002).

BBC dalam Q&A: Trouble in East Timor menulis, "Although some senior officials acknowledge that poverty and poor living conditions are factors behind the unrest, they also point a finger at political manipulation. (BBC Q&A: Des 4th)

Juga dalam siaran Radio BBC London versi bahasa Indonesia (6/12/2002) pukul 20.00 WIB/21.00 WITA, "Mario Viegas menolak keras dan minta PM Alkatiri untuk meminta maaf atas tuduhannya bahwa dia ada di belakang kerusuhan 4 Desember 2002 tersebut".

Demikian juga, UN Acting Deputy Commissioner of Operations, Vic Josey mengatakan, "There were many incidents. Some were related to certain groups, some were related to certain business. This was a mob. It was a riot situation. Whatever was in their path led to some sort of destruction. Whether there was anything behind it," he said. (AP Writer, 05/12)

Keterkaitan masalah substansial dengan kepentingan politik, ekonomi, dan ketidakpuasan masyarakat marginal atas kondisi yang seharusnya sudah mencapai tingkatan pemulihan, sampai kini belum ada tanda-tanda perubahan, bahkan mengkategorikan Timor Lorosae sebagai negara termiskin di dunia sambil menanti janji sinterklas dari negara-negara barat.

Kondisi ini membuat masyarakat sampai pada tahap frustrasi dan gampang ditungganggi kelompok yang mempunyai kepentingan politik dan ekonomi. Puncak kemarahan diluapkan dalam berbagai aksi kekerasan, dan yang terparah 4 Desember 2002. Kerusuhan itu mengakibatkan pembakaran dan penjarahan supermarket, rumah, hotel, bank dan gedung pemerintah. Kerusuhan itu menewaskan lima orang, 20-an terluka, dan 80-an orang ditahan pihak kepolisian untuk diajukan ke pengadilan. (AP, 04/12)

Peristiwa 4 Desember itu mungkin merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa atau aksi sebelumnya, antara lain: Kelompok Kolimau 2000, kelompok yang minta sumbangan paksa dengan cara teror dan intimidasi terhadap penduduk di wilayah barat Timor Lorosae.

Aksi demonstrasi ribuan mahasiswa 5-6 Agustus 2002 di Gedung Parlemen Timor Lorosae dengan menuduh "kebijakan pemerintah yang tidak jelas, penolakan bahasa Potugis sebagai bahasa resmi, perusahaan asing harus merekrut pribumi, pedagang kaki lima WNI harus dipulangkan, dan spanduk-spanduk bertuliskan Bubarkan Kabinet, Turunkan PM Alkatiri, Reformasi Kabinet atau Revolusi, turut menghiasi aksi demo itu. (Talitakum, Edisi 45, Agustus, 2002)

Dalam liputannya, Steven Gutkin menulis, "It remains unclear if the mayhem should be seen a sign of difficult times ahead or a mere snag in the complicated business of nation building in what for the past two years has largely been considered a UN success story." (AP, 05/12)

Indikasi adanya kebencian kepada orang asing dapat dilihat pada penjarahan dan pembakaran supermarket Hello Mister, langganan utama orang asing. Manager Supermarket Hello Mister, Kir Mac Manus 36 tahun, asal Kanada mengatakan pada AP, "life in East Timor was already becoming increasingly difficult since the country became independent in May, with government red tape rising and public services deteriorating".

Ciptakan nepotisme

Masalah substansial itu diperparah munculnya nepotisme baru di lingkungan kelompok kekuasaan politik dan pengusaha, seperti perekrutan FDTL dan Kepolisian(Gender Project dalam Kecurigaan, Lian Maubere edisi 49 Juli-Agts 2002), rekrutmen birokrat, penunjukkan langsung aneka tender yang terkait unsur nepotisme, amat berpengaruh atas pembagian kue yang terkesan diskriminatif.

Terjadinya nepotisme di Timor Timur tentu terkait latar belakang sejarah perjuangan bersama membebaskan diri dari "pendudukan Indonesia", juga karena keterlibatan kelompok atau faksi-faksi kecil tingkat clandestein, gerilyawan, pemuda, intelektual, swasta, dan diplomat yang tergabung dalam payung partai-partai besar (Fretilin, UDT, Apodeti Pro Referendum) dan menjadi sebuah koalisi besar yang dinamakan CNRT dengan sayap militernya, Falintil. Demikian juga nepotisme yang berdasarkan asal-usul regional yaitu Firaku (sektor timur) dan Kalade (sektor barat) serta 14 etnik besar dengan aneka latar belakang politik, ekonomi dan sosial yang berbeda menambah kompleksitas kehidupan bermasyarakat.

Pada masa perjuangan dirasakan perlunya persatuan dalam rangka menghadapi musuh bersama, Republik Indonesia. Setelah musuh ditaklukan-dukungan negara-negara barat yang berpihak pada CNRT melalui skenario kejahatan sempurna (perfect crime) dengan kekuatan militer (Interfet), disinformasi (pembentukan opini), dan dukungan kuat keuangan (donatur Portugal, Australia, UK, USA, Uni Eropa) amat jelas-maka saatnya membagi kue sebagai kompensasi perjuangan. Kue yang seharusnya dibagi proporsional untuk kesejahteraan masyarakat, terutama underbow Fretilin atau CNRT yang selama ini merasa amat berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan, belum terwujud.

Partai Fretilin atau CNRT sebagai pemenang pemilu, juga pada jajak pendapat bersama puluhan underbow-nya, pasti kesulitan menghadapi tuntutan award dan reward. Juga dengan dengan partai oposisi minoritas seperti Partai Demokrasi (mahasiswa/sarjana lulusan Indonesia), Partai Sosial Demokrat ( pimpinan Mario Viegas Carrascalao yang didukung eks birokrat Indonesia dan kelompok intelektual yang dulu mendapat beasiswa saat menjadi gubernur Timtim), Partai Sosialis Timor, Organisasi CPD-RDTL pimpinan Aitahan Matak dan lainnya, akan menghiasi nuansa politik Timor Lorosae yang berdampak pada instabilitas politik.

Juga ada kelompok yang punyai jaringan kuat dengan luar negeri dan memosisikan diri sebagai kelompok eksklusif (berbahasa Portugis dan Inggris). Selama "pendudukan Indonesia" mereka di luar Timor Lorosae dan modalnya kuat. Kelompok ini amat capable untuk mendapat kepercayaan dalam kerja sama pengelolaan perekonomian Timtim (masa depan Timor Gap, restoran, dan supermarket untuk konsumsi expatriat, impor barang/mobil dan sebagainya). Tapi, sumber daya yang dimiliki kelompok ini dicemburui masyarakat lain yang telah berkorban dan menderita di perjuangan pembebasan tapi kini jadi penonton.

Ke depan

Benarkah kerusuhan 4 Desember lalu terkait percobaan penggulingan PM Alkatiri? Itu soal lain. Namun, sejarah politik Timor Timur yang penuh darah dan air mata karena kepentingan ideologi dan kekuasaan menguatkan teori, "teman atau lawan tidak pernah abadi, yang abadi adalah kepentingan".

Dr Bilver Singh, mahaguru ilmu politik di National University of Singapore, dalam The United Nations Role in the Birth of Independent East Timor, A Blunder? mengatakan, apakah dengan pemberian kemerdekaan, masalah Timtim dianggap selesai? Apakah PBB bijak dan membuahkan kesejahteraan Timor Lorosae dengan menawarkan opsi itu? "Tidak! Peran PBB dalam memerdekan Timtim justru merupakan kekeliruan amat besar& a colossal blunder".

Negara-negara barat yang memberi dukungan dalam bentuk kejahatan sempurna (perfect time) tidak boleh berpuas diri dalam melepaskan Timtim dari NKRI, namun harus menuntun negara termiskin itu sampai terwujudnya stabilitas politik, ekonomi dan keadilan sosial.

Memang amat dilematis, ingin menciptakan keseimbangan antara berdikari dan mengharapkan bantuan negara barat. Namun, di balik bantuan itu tentu tidak ada free lunch.

Florencio Mario Vieira, Pemerhati masalah Timor Timur, alumnus H John Heinz III, School of Public Policy and Management Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania-AS 1997, Mantan staf Bappeda Provinsi Timtim 1997-99, kini bekerja pada Bappeda Provinsi NTT.

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0212/09/opini/42343.htm


 
Versi Lengkap
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail