Pendidikan untuk Semua Lewat Internet

 
Oleh: Jeffrey D. Sachs


 

Tidak biasanya kita menyaksikan bergabungnya dua kekuatan global memajukan sebuah terobosan di bidang pendidikan, tapi itulah yang terjadi dengan Connect to Learn (www.connecttolearn.org), sebuah prakarsa global agar semua anak di muka bumi bisa menyelesaikan setidak-tidaknya pendidikan menengah. Raksasa telekomunikasi Ericsson dan penyanyi pop Madonna bergabung dalam upaya agar anak-anak di seluruh dunia memperoleh peluang duduk di bangku sekolah dan terhubung satu sama lain melalui broadband nirkabel Internet. Saya dan rekan-rekan pada Earth Institute dan Millennium Promise Alliance ikut serta dalam upaya ini. Taruhannya sangat besar dan prospeknya sangat menjanjikan.

Revolusi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini jelas merupakan kekuatan yang dahsyat bagi pembangunan ekonomi dunia. Bukan hanya di New York, Shanghai, atau Paris orang menemukan telepon seluler di tangan orang-orang yang lalu lalang di kota-kota besar tersebut, tapi juga di tangan sopir-sopir taksi di Nairobi dan gembala unta di Kenya sebelah utara. Dewasa ini terdapat 4,6 miliar pelanggan ponsel, dan angka ini terus melambung. Di kawasan Afrika sub-Sahara saja terdapat 250 juta pelanggan. Menyebarnya 3G (dan tidak lama lagi 4G) menawarkan terobosan teknologi di bidang pendidikan. Bahkan sekolah-sekolah yang terpencil tiba-tiba bisa terhubung lewat Internet dengan sekolah-sekolah lainnya melalui panel surya, komputer yang murah, dan akses nirkabel. Sekolah yang bahkan tidak memiliki kelengkapan yang mencukupi tiba-tiba bisa mengakses gudang informasi sama halnya seperti di tempat-tempat lainnya di dunia.

Ketika semua ini terjadi, hasilnya sungguh membesarkan hati. Dalam hitungan menit setelah tersambung secara online, anak-anak di suatu masyarakat pedesaan di Kenya tenggara bisa membaca informasi mengenai negeri mereka sendiri yang ditampilkan program Millennium Villages Project, yang mencakup seluruh Benua Afrika. Masyarakat yang tidak banyak mengenyam pendidikan formal sekarang menyaksikan anak-anak mereka berduyun-duyun ke sekolah, sementara kelengkapan yang murah, mulai hubungan Internet, penyediaan gizi yang sehat di sekolah, dan air yang bersih, telah meningkatkan mutu, kinerja, serta daya tarik sekolah bagi siswa dan orang tua mereka.

Dengan dana awal yang secukupnya, masyarakat miskin tradisional di pedesaan yang sebelumnya tidak memperhatikan pendidikan anak-anak perempuannya tiba-tiba menyadari pentingnya pendidikan tidak hanya bagi anak laki-laki, tapi juga anak perempuan mereka. Di sebuah desa Millennium Villages Project di Ethiopia yang baru-baru ini saya kunjungi bersama menteri kesehatan negeri itu, seorang ayah mengatakan kepada saya bagaimana ia telah memutuskan terus menyekolahkan putrinya daripada mengawinkannya pada usia 12 tahun dengan putra seorang tetangganya. "Saya bertanya kepada anak saya, apa yang ia inginkan," demikian ujar sang ayah, "dan ia mengatakan kepada saya bahwa ia ingin meneruskan sekolahnya. Jadi sekarang ia masih duduk di bangku sekolah."

Menteri kesehatan berpaling kepada saya dan mengatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya mendengar cerita semacam itu: bahwa sang ayah tidak hanya menanyakan keinginan anak perempuannya, tapi juga dengan gembira mengikuti keinginan anaknya. Kita tengah menyaksikan perubahan yang besar semacam itu di seluruh Afrika. Masyarakat miskin menyambut prospek peningkatan pendidikan anak-anak perempuan mereka jika sumber daya yang tersedia seadanya itu memungkinkan.

Pada suatu hari yang cerah baru-baru ini, Madonna dan Presiden Direktur Ericsson Hans Vestberg hadir pada peletakan batu pertama pembangunan sebuah sekolah putri dan meluncurkan prakarsa pendidikan global untuk semua. Di kaki langit di dua tempat, yang satu sama lain terpisah sekitar 4 kilometer, terdapat menara bergerak yang bakal menghubungkan sekolah yang baru itu dengan dunia luar. Prakarsa ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. Menteri pendidikan telah menyatakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan pendidikan secara nasional secepat tersedianya sumber daya yang diperlukan.

Pendidikan menengah secara universal, terutama untuk para putri, telah membawa perubahan besar pada masyarakat yang berupaya melepaskan diri dari kemiskinan, karena ia juga bakal mengubah dinamika demografis negeri itu. Di bagian dunia paling miskin di dunia tempat anak-anak perempuan belum bisa duduk di sekolah menengah, mereka dikawinkan pada usia muda dan rata-rata punya 6-8 orang anak. Mereka yang terus duduk di sekolah kawin pada usia yang lebih lanjut, mungkin pada usia balasan sampai 20-an tahun, mendapatkan pekerjaan dan punya 2-3 orang anak.

Keterkaitan antara penurunan angka kelahiran dan pemberantasan kemiskinan ini sangat besar pengaruhnya. Ketika keluarga yang miskin tidak punya banyak anak, mereka bisa memberikan perhatian yang lebih besar untuk kesehatan, nutrisi, dan pendidikan per anak. Para ibu bisa punya waktu yang lebih banyak untuk bekerja. Menurunnya pertumbuhan populasi berarti berkurangnya tekanan terhadap ketersediaan lahan, air, dan keberagaman hayati. Singkatnya, kaitan antara pendidikan dan menurunnya angka kelahiran, pembangunan ekonomi, serta berkurangnya perusakan lingkungan begitu kuat dan begitu nyata, sehingga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Menghubungkan anak-anak di seluruh dunia dalam berbagi pelajaran di sekolah secara online dan memfasilitasi "jejaring sosial" anak-anak di seluruh dunia pada usia muda memberikan manfaat edukatif yang menjangkau jauh. Baru-baru ini, pada peluncuran hubungan school-to-school antara sebuah sekolah dasar di Amerika Serikat dan sekolah serupa di Kenya, anak-anak yang terpisah satu sama lain sejauh 8.000 mil bersama-sama read-aloud, membaca dengan suara yang keras, dan kemudian merasa kagum sendiri bahwa mereka bisa berbagi cerita dengan anak-anak di lain bagian dunia. Fakultas Keguruan pada Columbia University mengawasi proses belajar school-to-school ini dengan metode pemantauan yang menilai pengalaman sekolah bersama ini dari segi pembelajaran kognitif dan etis yang diperluas.

Dewasa ini diperkirakan ada 300 juta anak usia sekolah di seluruh dunia yang tidak memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan menengahnya, sebagian besar karena alasan ekonomi. Keadaan ini, yang mengancam masa depan anak-anak dan masyarakat di lingkungan mereka, bisa diatasi dengan biaya yang tidak besar. Sebuah global fund for education (dana global untuk pendidikan) yang digabungkan dengan upaya global sukarela untuk menghubungkan anak-anak di seluruh dunia menawarkan peluang terobosan yang bahkan beberapa tahun yang lalu dianggap tidak realistis. Prakarsa semacam ini merupakan contoh dramatis lagi dari sebuah kebenaran mendasar saat ini: kemiskinan ekstrem, buta aksara, dan kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah merupakan derita yang anakronistik ketika kita memiliki teknologi dan goodwill di dunia untuk mengakhiri semua ini.

URL Source: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/05/03/Opini/krn.20100503.19

Jeffrey D. Sachs
guru besar ekonomi, Direktur Earth Institute pada Columbia University, Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB mengenai Millennium Development Goals.

  Keterangan Artikel  
  Sumber: Koran Tempo    
  Tanggal:   03 Mei 10    
  Catatan:      
     
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail