|
Belakangan ini sering kita mendengar pernyataan bahwa pesatnya kinerja bursa saham tidak mencerminkan kinerja perekonomian negara ini. Tahun ini indeks bursa saham melesat naik 60%, imbal hasil (yield) obligasi negara membaik signifikan, kurs rupiah menguat, tetapi kemiskinan bertambah dan kinerja sektor manufaktur semakin menurun.
Bagaimana sebenarnya kaitan kinerja pasar modal Indonesia dengan sektor riil?
Jawabannya, jangan memakai indikator bursa saham untuk menggambarkan kondisi ekonomi sektor riil. Gunakan indikator bursa untuk proksi kepercayaan investor portofolio asing terhadap Indonesia, baik terhadap kondisi makro ekonomi, politik, arah kebijakan ke depan dan kinerja perusahaan. Kenaikan harga saham dan perbaikan yield obligasi berdampak positif terhadap turunnya biaya modal bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha.
Indeks Bursa Efek Jakarta (BEJ) memang bukan gambaran menyeluruh terhadap perekonomian Indonesia, karena bobot dan komponen indeks BEJ didominasi oleh sektor telekomunikasi dan perbankan. Saham sektor telekomunikasi dan perbankan memiliki bobot sekitar 45% pada indeks BEJ.
Kelompok kedua adalah perusahaan otomotif, barang konsumsi, perusahaan gas dan pertambangan, serta semen.
Tiga sektor ekonomi penting di Indonesia (industri manufaktur, perdagangan dan pertanian/perkebunan/kehutanan), yang merupakan 58% dari PDB, tidak memegang peranan penting dalam timbangan indeks BEJ, karena tidak banyak perusahaan besar di sektor-sektor tersebut yang mencatatkan sahamnya di BEJ.
Perusahaan sektor manufaktur, pertanian, perikanan, perdagangan yang tercatat di bursa saham Indonesia bukanlah perusahaan besar atau dianggap tidak mampu bersaing menjadi besar.
Telekomunikasi
Bobot sektor telekomunikasi dalam komponen PDB Indonesia saat ini hanya 7%, itupun sudah termasuk sektor transportasi. Tetapi di bursa efek, sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia mempunyai kapitalisasi pasar mendekati Rp20 triliun dan memiliki bobot terbesar yaitu 17,5% di indeks saham BEJ.
Apabila digabung dengan Indosat yang memiliki bobot 2,7% kedua perusahaan tersebut di indeks BEJ bobotnya menjadi 20%.
Harga saham PT Telkom tahun ini meningkat 64% sedangkan harga saham Indosat stagnan. Kinerja saham kedua perusahaan ini berbeda karena prestasi pertumbuhan pelanggan dan pendapatan di sektor telepon seluler.
Pada sembilan bulan tahun ini, laba bersih Telkomsel (anak perusahaan Telkom) mampu tumbuh 41% dari periode tahun lalu, dengan margin laba sebelum bunga, pajak & depresiasi (EBITDA) sebesar 61% terhadap penjualan kotor. Jumlah pelanggan Telkomsel pada periode yang sama tumbuh 38% menjadi 32.4 juta.
| 10 besar komponen indeks BEJ
|
| Telkom Ind. | 17,49% |
| Astra Int'l | 5,62% |
| BCA | 5,56% |
| BRI | 5,52% |
| Bank Mandiri | 5,1% |
| PGN | 4,49% |
| Unilever Ind. | 4,35% |
| Indosat | 2,71% |
| INCO Ind. | 2,69% |
| Bank Danamon | 2,68% |
Sumber: Bloomberg, 11 Des, 2006
Investor terus memerhatikan apakah Indosat, Excelcom, serta Bakrie Telecom & Mobile 8 akan mampu mengalahkan dominasi Telkomsel. Pertanyaannya adalah, apakah pendatang baru seperti Hutchinson dan Maxis, yang kemungkinan masuk pasar pada awal 2007, akan mampu mengganggu pangsa pasar dan laba Telkomsel?
Perbankan
Setelah sektor telekomunikasi, empat bank yaitu BRI, BCA, Mandiri dan Danamon mempunyai bobot 18% di indeks BEJ. Jika ditambah dengan BII, Bank Niaga, Panin dan Lippo Bank, bobot keseluruhan menjadi 22%. Padahal, sektor keuangan di dalam PDB Indonesia hanya menyumbang porsi 8%.
Tahun ini, saham BRI naik 72%, saham BCA naik 53%, saham Mandiri naik 73% dan saham Danamon naik 31%.
Investor membeli saham perbankan karena melihat bahwa pemburukan kualitas kredit pada semester I dan penurunan laba ternyata tidak seburuk perkiraan awal tahun. Investor yakin penurunan suku bunga, pertumbuhan kredit dan ekonomi akan pulih pada 2007.
Tanda-tanda pemulihan sebenarnya memang sudah mulai terlihat pada pencairan kredit, penjualan mobil dan sepeda motor, serta penjualan semen pada kuartal III dan IV. Karena itu, saham otomotif (Astra International mempunyai bobot 5% di indeks) naik 65% tahun ini dan saham Indocement naik 65% dan Semen Gresik naik 100%.
Perlu diketahui, sesuai sifatnya, keyakinan investor pasar keuangan memang selalu overshoot, bisa terlalu positif atau terlalu negatif. Kenaikan saham Bank Mandiri termasuk spektakuler karena analis dan investor melihat adanya upaya manajemen yang serius membenahi kredit bermasalah dan segmen bisnis bank tersebut.
Bank tersebut juga mulai menyalurkan kredit, tetapi berhubung adanya pembayaran oleh debitor macet, terlihat net pertumbuhan kreditnya tidak ada. Sebagai bank dengan kredit bermasalah terbesar, diharapkan pembenahan kredit macet akan membawa potensi laba yang cukup signifikan di masa depan.
Infrastruktur
Saham sektor semen (Indocement, Semen Gresik, dan Holcim Indonesia) secara gabungan memiliki bobot 4,5% dalam indeks BEJ. Saham sektor semen naik pesat karena diyakini penurunan suku bunga akan membangkitkan kembali pembangunan properti dan sektor infrastruktur.
Selesainya kasus Cemex membuat investor membeli saham Semen Gresik, karena dianggap manajemen dan karyawan Semen Gresik Grup akan bisa berkonsentrasi kepada kinerja perusahaan, tidak lagi pusing dengan urusan demonstrasi dan politik.
Di pertambangan dan pertanian, naiknya harga barang-barang tambang dan perkebunan tecermin juga pada kenaikan harga saham yang mencapai di atas 100%.
Tetapi delapan besar perusahaan tambang dan perkebunan hanya memiliki bobot sekitar 10% pada indeks BEJ, sebaliknya sektor pertanian (termasuk perkebunan & kehutanan) dan pertambangan menyumbang 23% PDB. Artinya, di negara ini sangat kurang perusahaan di sektor pertanian dan perkebunan.
Jika iklim investasi bisa dibenahi, sektor perkebunan dan pertanian modern harusnya menjadi sektor andalan, karena akan menyerap banyak tenaga kerja.
Yang disayangkan adalah sektor manufaktur. Meski menyumbang 29% PDB Indonesia, hampir tidak ada perusahaan manufaktur yang mempunyai peranan penting di indeks BEJ.
Pertumbuhan sektor manufaktur sendiri cuma 4,1%. Hal ini menggambarkan bahwa sektor manufaktur mengalami hambatan pertumbuhan, bisa dikarenakan kalah bersaing dengan produk impor, rendahnya produktivitas buruh, keterbatasan bahan baku, dan atau teknologi yang ketinggalan zaman. (mirza.adityaswara @credit-suisse.com)
URL Source: http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL
Mirza Adityaswara Analis perbankan & pasar modal
|