Betapa Masalah Ketenagakerjaan Menyimpan Persoalan Besar

 

 

RIBUAN buruh PT Doson Indonesia hari Selasa 19 November 2002 turun ke jalan untuk menuntut hak pesangon mereka. Kita tahu bahwa PT Doson terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal menyusul dihentikannya order sepatu oleh perusahaan Amerika Serikat (AS), Nike Inc.

Berdasarkan putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan tingkat Pusat (P4P), para pekerja berhak atas pesangon yang besarnya satu kali Peraturan Menteri Tenaga Kerja (PMTK). Namun, putusan P4P tersebut dibatalkan oleh Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (SK Mennakertrans), dan menetapkan besar pesangonnya harus dua kali PMTK.

Terhadap keputusan Mennakertrans tersebut pihak pengusaha membawanya ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Putusan Majelis Hakim PTUN memerintahkan kepada Mennakertrans untuk menunda pelaksanaan surat keputusan tentang pembatalan putusan P4P.

Berlarut-larutnya keputusan PHK itu membawa akibat yang merugikan bagi karyawan. Sebanyak 6.822 buruh pabrik sepatu itu kini menjadi tidak jelas akan haknya. Jangankan dua bulan PMTK, untuk satu bulan PMTK pun pihak pengusaha belum mau memberikan, karena memang belum jelas putusan mana yang harus dijalankan mereka.

Dari keluhan yang disampaikan para buruh, kita menangkap dua hal. Pertama adalah keinginan untuk mendapatkan dua kali PMTK. Kedua, mereka sangat membutuhkan pesangon itu sesegera mungkin karena mereka tidak memiliki uang untuk merayakan Lebaran yang sudah semakin mendekat.

APA yang terjadi di Tangerang itu hanya merupakan gambaran kecil dari persoalan besar ketenagakerjaan yang sedang kita hadapi. Hanya saja kita tidak pernah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan ini.

Kita pantas waswas dengan tingginya tingkat pengangguran. Data yang disampaikan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pertambahan jumlah orang yang mendapat pekerjaan antara tahun 2000 dan 2001 jauh lebih sedikit daripada orang yang menganggur. Apabila jumlah orang yang bekerja bertambah dengan 1,08 persen, maka penambahan jumlah orang yang menganggur mencapai angka 37,70 persen.

Kalau kita terjemahkan dalam angka, jumlah orang yang bekerja hanya bertambah dengan satu juta orang, sementara yang menganggur bertambah dengan 3,47 juta orang.

ANGKA-angka itu menunjukkan bahwa jumlah orang yang menganggur setiap tahunnya selalu bertambah. Kita belum tahu jumlah angka pengangguran untuk tahun 2002. Namun, bukan mustahil kondisinya lebih buruk dari tahun 2001.

Apa yang terjadi di Tangerang merupakan salah satu contoh bagaimana tekanan pengangguran terus kita hadapi. Sepanjang tahun 2002, kita banyak mendengar tentang PHK yang terpaksa dilakukan pabrik-pabrik sepatu, baik yang ada di Tangerang maupun di Bandung.

Kita juga mengetahui bahwa jumlah investasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri terus menunjukkan penurunan. Badan Koordinasi Penanaman Modal berusaha keras untuk menarik masuk investasi ke Indonesia, namun hasilnya tetap kurang menggembirakan.

Jangan lupa bahwa belum lama ini kita juga menghadapi tragedi Bali. Ledakan bom 12 Oktober 2002 itu sangat memukul kepercayaan internasional kepada kita. Sektor yang paling terkena adalah sektor pariwisata. Perkiraan yang dilakukan Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia, akibat dari bom Bali bisa menyebabkan 500.000 orang kehilangan pekerjaan formal mereka.

SEMUA fakta tersebut hendaknya membuka mata kita untuk lebih serius menangani soal ketenagakerjaan. Sebab, inilah sebuah kenyataan yang hidup di tengah kita.

Bagaimanapun kita tidak cukup hanya berbicara soal ide, soal wacana. Saatnya bagi kita untuk lebih membumi, karena ini merupakan persoalan kita bersama dan kita juga yang akan terkena akibatnya kalau gagal untuk menangani soal ketenagakerjaan ini.

Peringatan yang disampaikan ahli ekonomi Dradjad H Wibowo harus menyadarkan kita bahwa tingkat pengangguran 30 persen yang terjadi di negeri ini merupakan sebuah bom waktu. Kalau terlalu lama tidak kita selesaikan, salah-salah akan menimbulkan krisis sosial, karena bekerja itu bagi manusia adalah sebuah kebutuhan mendasar. Manusia akan merasa kehilangan harga diri apabila tidak memiliki pekerjaan.

SEJAUH mana persoalan ini juga menjadi perhatian partai-partai politik? Jujur harus kita katakan, inilah yang kita khawatirkan. Konsentrasi yang lebih tertuju kepada kekuasaan, kepada Pemilihan Umum 2004, membuat kita lupa akan tugas-tugas mendesak yang harus kita pecahkan.

Tidak ada satu pun partai politik yang memberikan perhatian kepada angka pengangguran yang sudah berada dalam tingkat yang sangat membahayakan. Semuanya asyik dengan dirinya sendiri, dengan kampanye-kampanye terselubung, dengan politisasi berbagai macam persoalan hingga berloma mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya demi kepentingan Pemilu 2004.

Padahal, seperti dikatakan Direktur Pengembangan dan Perluasan Kerja Depnakertrans Muller Silalahi, kondisi tahun 2003 tidak begitu menggembirakan. Penyerapan tenaga kerja di sektor formal maksimal hanya 1,2 juta orang, sementara angkatan kerja baru yang membutuhkan pekerjaan ada sekitar 2,5 juta orang. Mereka yang tidak tertampung itu pasti akan menambah lagi jumlah penganggur yang saat ini mencapai 40,5 juta orang.

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama. Karena, salah-salah kita semua yang akhirnya menjadi korban dari meledaknya angka pengangguran dan sikap frustrasi dari mereka yang tidak kunjung mendapat pekerjaan.

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/21/opini/ataj04.htm

  Keterangan Artikel  
  Sumber: Kompas    
  Tanggal:   21 Nov 02    
  Catatan:      
     
Versi Cetak
Beritahu Teman
 
Back To Top
 
 
 
Site Map
Pencarian
Pencarian Detail