Dalam konsep ruang dan waktu,
persoalan dan permasalahan yang kita analisa, dibahas dicarikan penyelesaian,
dinamika tersebut bekerja dalam paradigma yang berlaku. Apakah itu paradigma
teknis, ekonomis, social,
politik, kebudayaan, ethic, manusia yang universal, ekologis dan juga paradigma
global (Bumi).
Pengalaman
saya, bilamana kita melakukan pekerjaan kita dengan kreatif dalam paradigma yang
berbeda-beda akan dengan mudah menemukan penyelesaian permasalahan yang kita
hadapi.
Kebangkrutan
Capital (dalam) paradigma ekonomis tidak selalu diikuti dengan hilangnya Capital
pada paradigma Social, juga Political Capital, atau Human
Capital, atau Cultural Capital, Geo(politic) Capital (Geography
& Ecology paradigm).
Dan
juga “No way Out” dalam paradigma ekonomi mungkin bisa dijawab dan
diatasi dalam lintasan paradigma yang lebih luas.
Itu
memerlukan sebuah cita pandang (Vision) yang cerdas dan akurat sebelum kita
melangkah pada program dan aksi yang lebih terperinci.
Hendaklah
kita juga mengetahui sebesar apapun besaran dalam ruang dan waktu dia menjadi
Nadir ( 0 ) dalam paradigma Universe. Einstein membuktikan hal itu bilamana kita
bekerja dengan kecepatan cahaya (300.000 km/detik), sebagaimana John Naisbitt
mengatakan ; “Technology adalah mata uang kehidupan”, dan sejauh mana kita
menguasainya.
Cybernetics
Revolution (2001-2006/8) yang sekarang sedang berlangsung di Bumi ini (baca
Amerika Serikat) akan berakhir dengan ditemukan berbagai piranti keras dan lunak
yang bekerja dengan kecepatan cahaya. Hal itu membuat harapan besar permasalahan
absolute dalam ruang dan waktu tersebut dapat diatasi dan diselesaikan (bacalah
kisah satelit Amerika yang memakmurkan daerah pedalaman India sekarang ini).
Dalam
bukunya Paul Kennedy, “The Rise and the fall of the great powers”, Negara bangsa juga seperti manusia, ia dilahirkan,
kanak-kanak, menjadi dewasa, tua, sakit-sakitan dan mati.
Indonesia adalah
Negara tua (sakit-sakitan) pada usia masih muda.
Kita perlu melahirkan kembali, salah satunya adalah melahirkan
Cita-cita dan Impian Baru sebagai
bagian penting dari proses “Re-inventing Indonesia”.
bambang
warih koesoema, 2003
|