| DALAM penyederhanaan, seluruh etika
kemasyarakatan mungkin dapat diringkas sebagai berikut: setiap sosok
kekuasaan yang kinerjanya berdampak luas pada hidup banyak orang terkena
kriteria akuntabilitas publik. Artinya, karena kinerja kekuasaan
menjelaskan terjadinya berbagai masalah dalam masyarakat, kepada para
pemegang kekuasaan itu juga dikenakan tanggung jawab kemasyarakatan. Itu
berlaku baik untuk kinerja kekuasaan pemerintah, bisnis, militer, maupun
sosok kekuasaan lainnya, seperti ilmu, teknologi, agama, dan sebagainya.
Dengan lugas prinsip itu sudah diterapkan pada kinerja pemerintah,
termasuk jika masih jauh dari terlaksana. Meski bukan peristiwa baru, lalu
meledaklah sederetan malpraktik bisnis di AS: Enron, Tyco, Adelphia,
Global Crossing, Xerox, WorldCom, Walt Disney, ImClone System, dan
terakhir Merck. Bersiaplah menelan deretan malpraktik berikutnya. Deretan
skandal bisnis itu menyangkut manipulasi pembukuan, penggelapan pajak,
penipuan sekuritas, insider trading, dan sebagainya. Dan pemerintah
"ultra-kanan" seperti rezim Bush Jr pun akhirnya berang. Seperti dicatat
Business Week (17/7/02), dunia bisnis lalu sibuk mempersoalkan
etika.
Narcissisme laba
Dengan atau tanpa prinsip etis, oleh salah satu penganjur
neo-liberalisme, Theodore Levitt (1958), kinerja bisnis dinyatakan sebagai
berikut: "...bisnis harus bertarung seperti dalam perang; sebagai perang
yang efektif, bisnis harus dijalankan dengan berani dan, yang terpenting,
bukan secara moral (not morally)". Lalu apa moralitas bisnis?
Ekonom neo-liberal lain, Milton Friedman (1962), bilang: "...satu dan
hanya satu tanggung jawab bisnis, yaitu mengerahkan seluruh sumber dayanya
untuk akumulasi laba...".
Kelebihan formula itu adalah kelugasannya. Kekurangannya bukan terletak
pada pencarian laba, tetapi pada siasat memisahkan kinerja "kekuasaan"
(modal, aset finansial) dari "tanggung jawab". Implikasinya jelas. Karena
etika kemasyarakatan berdiri di atas kaitan tak terpisah antara
"kekuasaan" dan "tanggung jawab", pemisahan keduanya juga berarti
penyingkiran "tanggung jawab publik" dari kinerja "kekuasaan bisnis". Itu
terjadi bukan hanya dalam praktik, tetapi bahkan di dasar gagasannya
sendiri.
Dengan itu, moralitas dianggap tidak relevan dalam bisnis. Dalam
bukunya terbaru, On Globalization (2002), George Soros, pelaku yang
fasih dengan kinerja bisnis itu, punya kritik berikut: "...tidak masuknya
moralitas dalam kalkulasi bisnis menjelaskan mengapa praktik dan gagasan
fundamentalisme pasar begitu sukses".
Satu dari banyak contoh masalah etika yang sudah menjadi soal
struktural adalah potret berikut. Dari 1.223 obat-obatan baru yang
diproduksi antara tahun 1975-1996, hanya 13 jenis obat yang diciptakan
untuk penyakit orang miskin di daerah tropis. Di tahun 1998, dari total 70
milyar dollar AS biaya riset perusahaan-perusahaan obat raksasa, hanya 300
juta dollar (0,43 persen) ditujukan bagi pengembangan vaksin AIDS, dan
hanya 100 juta dollar (0,14 persen) bagi riset obat malaria. Porsi
terbesar biaya produksi dipakai untuk riset obat-obat kecantikan,
kosmetika, obesitas, dan sebagainya. (The Economist, 10/11/01)
Pola itu terjadi karena konsumen obat-obat kecantikan dan semacamnya
berasal dari golongan yang selalu mampu membayar tinggi harga obat-obat
itu, entah dalam situasi krisis ekonomi atau tidak. Daya beli golongan
menengah ke atas ini pada gilirannya menentukan kecepatan akumulasi laba
perusahaan-perusahaan pembuatnya. Maka tidak mengherankan bila warga AS
menghabiskan delapan milyar dollar per tahun untuk belanja kosmetik. Pada
tahun yang sama, PBB tidak bisa mengumpulkan sembilan milyar dollar untuk
membangun fasilitas sederhana bagi seluruh penduduk dunia yang selama ini
tidak pernah punya akses pada air minum bersih (Hertz 2001).
Contoh lain. Banyak kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) makin sering
tidak punya kaitan apa pun dengan kontrak kerja, tetapi dengan seberapa
besar laba bisa digelembungkan. Misalnya, antara tahun 1991-1995, untuk
mengungkit dividen serta harga sahamnya, IBM memotong 33 persen anggaran
gaji, dan memberhentikan 122.000 pekerjanya.
Yang naik adalah harga saham, laba, share options, dan gaji satu
lapis kaum berdasi dan bersepatu berhak tinggi. Dari belajar di sekolah
bisnis dan manajemen, mereka makin pintar menerapkan siasat mengungkit
laba dan nilai kapitalisasi. Di AS pada dasawarsa 1970, perbandingan gaji
eksekutif dan buruh berkisar 40:1. Artinya, bila buruh mendapat 500.000,
eksekutif menerima 20 juta. Di tahun 1990, rasio itu sudah melonjak
menjadi 225:1. Dan di tahun 2001, rasio itu sudah menjadi 450: 1. Bila
buruh diupah 500.000, eksekutif mendapat 225,5 juta. Michael Eisner, bos
Disney, mengantungi 576 juta dollar AS di tahun 1998. Tak seorang pun
percaya, kemampuan direktur 450 kali lipat keterampilan buruh. Namun,
begitulah kisah ekonomi selama beberapa dasawarsa ini.
Maka baiknya kita berhati-hati saat mendengar para pemodal, pengusaha,
direktur, dan manajer bilang: "Tugas kami bagi bangsa ini adalah
menciptakan lapangan kerja." Bahkan dari logika yang paling sederhana,
pidato semacam itu salah kaprah karena mencampuradukkan "akibat" dan
"tujuan". Tidak ada pemodal yang berbisnis untuk menciptakan lapangan
kerja. Ia berbisnis untuk mengejar laba dan akumulasi modal. Itulah motif
utama dan tujuannya.
Bahwa dalam mengejar tujuan itu, ratusan/ribuan lapangan kerja dibuka
bukanlah tujuan, melainkan akibat tujuan utama. Istilahnya: an
unintended consequence. Sedang akumulasi laba adalah the intended
goal and consequence (tujuan dan akibat yang dimaksud). Karena itu,
pidato seperti di atas adalah sebentuk pelesetan berbahaya. Yang terlibat
di situ adalah "akibat tak disengaja" yang diklaim sebagai "tujuan", ex
post diaku sebagai ex ante. Tentu, argumen ini tidak sama
dengan mengatakan bahwa bisnis dan laba, secara intrinsik unethical.
Itu sebentuk kenaifan lain.
Moralitas bisnis bukan soal menerapkan peraturan agama atau tradisi
dalam bisnis, melainkan soal pelaksanaan kaitan antara "kekuasaan bisnis"
dan "tanggung jawab publik ". Dan tulang punggung kaitan itu adalah
sekawanan para CEO (chief executive officers), manajer, lawyers
perusahaan, dan akuntan.
Rantai yang putus
Michael Backman (1999), pengamat bisnis di Asia Timur, berkisah
tentang gejala yang luas terjadi di Indonesia: "...kebanyakan perusahaan
berganti auditor, tergantung mana yang mau 'memasak' pembukuan mereka....
Jika tidak mendapatkan itu, mereka mengancam pindah". Jadi, dalam banyak
hal bukan auditor yang mengaudit perusahaan, melainkan perusahaan yang
mendikte auditor.
Melalui proses itu, rantai penghubung "kekuasaan bisnis" dan
"akuntabilitas publik" putus. Itu juga yang terjadi dalam profesi hukum,
seperti berulang kali ditunjuk Prof Satjipto Rahardjo. Dengan itu, kata
"profesi" (dari kata Latin rofiteri bersumpah bagi kepentingan
umum) juga kehilangan isinya. Dalam rumusan ekonom Charles Lindblom
(1984), "para akuntan kehilangan kaitan dengan kepentingan publik karena
publik mereka tinggal berupa target yang dikejar perusahaan". Hal yang
sama juga bisa dikatakan tentang berbagai bidang kerja lain.
Apa yang kemudian berkembang bukan hanya penjarahan atas kepentingan
umum dalam arti abstrak, tetapi juga uang rakyat. Sekali lagi, Backman
(1999) bercerita tentang para bankir Indonesia yang terus terang mengaku:
"...bila Anda meminjam dari bank pemerintah dan peduli mengembalikan, Anda
tolol." Yang menggelisahkan, Backman melanjutkan temuannya, "pola itu
menyebar ke seluruh sektor bisnis di Indonesia".
Maka, bukannya tidak terkait erat dengan mekanisme di atas bila pada
posisi akhir 1997 saja, asset private banking di Indonesia yang
dikuasai warga superkaya sudah menumpuk sebesar Rp. 2.570 trilyun (257
milyar dollar AS), jauh lebih besar bahkan dibanding aset gabungan seluruh
bank umum dan Bank Sentral (BI) pada posisi akhir tahun 2000, Rp 1.565
trilyun. (Kompas, 29/5/01)
Di koran dan majalah hiburan, potret itu biasanya dipajang sebagai
perayaan. Apa yang jarang dikisahkan, potret itu menyembunyikan masalah
kinerja kekuasaan yang punya implikasi begitu mendalam terhadap tata hidup
bersama. Make no mistake, bukan kekayaan yang menjadi masalah. Yang
menjadi soal etika adalah eratnya kaitan kinerja kekuasaan uang yang
sedemikian besar itu dengan corak masalah yang lahir darinya, seperti
kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), PKPS, kredit macet,
insider trading, bahkan kerusakan ekologi.
Kebanyakan dari kita biasanya lalu bilang, semua itu karena "sistem"
ataupun "struktur". Cara pandang seperti itu memang mengatakan banyak,
sekaligus tidak mengatakan apa pun. Tidak mengatakan apa pun, karena dalam
peristiwa non-alami tidak pernah ada kinerja sistem tanpa sekawanan
pelaku. Antara kinerja kekuasaan uang yang begitu besar dan berbagai
skandal bisnis adalah malpraktik para CEOs, manajer, corporate lawyers,
akuntan. Tentu, lain padang lain ilalang. Namun, luasnya malpraktik bisnis
di Indonesia bukanlah rumpun yang sama sekali lain dari banyak kejahatan
bisnis yang hari-hari ini sedang menjadi kontroversi di AS.
Larry Ellison, CEO Oracle, seperti hanya menyatakan sesuatu yang sudah
terang-benderang saat bilang dalam konferensi bisnis di Kopenhagen 26 Juni
2002: "Banyak bandit di jalanan yang akan merampok uang Anda, begitu pula
para bandit di ruang-ruang dewan direksi perusahaan..." John Bogle,
pendiri Vanguard Group, geram menambahkan: "Jika para bandit kerah-putih
itu dibuang ke Attica [penjara di upstate New York], saya kira
tidak ada lagi kejahatan kerah-putih dalam generasi ini" (Business Week,
15/7/02).
Seperti semua masalah yang menyangkut urusan kekuasaan, perubahan
malpraktik bisnis tentu akan memakan waktu panjang, bahkan juga
mengandaikan keketatan hukum. Perubahan itu, kalaupun terjadi, tidak akan
muncul dari sebuah paket jadi (se-komprehensif apa pun), tetapi dengan
"menangkap" setiap kesempatan yang lahir dari satu demi satu ledakan
kontroversi.
Bila luasnya malpraktik bisnis di negeri ini tidak juga satu demi satu
mulai menjadi kontroversi? Paling tidak ada dua jawaban. Pertama, karena
keluasan malpraktik bisnis itu sebenarnya tidak pernah ada. Ia hanya
fatamorgana.
Kedua, karena kapitalisme yang berkembang di negeri ini adalah
kapitalisme gangster, tentu saja gangsterisme bisnis juga tidak dianggap
sebagai malpraktik. Silahkan pilih yang mana.
B Herry-Priyono Peneliti, alumnus London School of Economics (LSE),
Inggris
|
|