logo_artikel_kiri_1.gif (1182 bytes) logo_artikel_tengah_1.gif (2324 bytes)
logo_artikel_kiri_2.gif (4673 bytes) logo_artikel_tengah_2.gif (11551 bytes)
logo_artikel_tengahb_1.gif (1244 bytes)
Kumpulan Tulisan Belajar Politik Program Khusus Database Sumber Informasi

 

Runtuhnya Kejayaan Koteka

Kompas, 7 April 2001

 


SINAR Matahari kemerahan beranjak pergi meninggalkan Puncak Jayawijaya. Kesunyian malam Kota Wamena mulai menyelimuti penduduk yang berjumlah 150.000 jiwa itu. Rasa dingin pun menerpa penduduk daerah itu terutama pendatang baru. Hari itu tidak banyak manusia koteka berkeliaran di dalam kota dari pagi sampai sore hari.

lautirian.jpg (14706 bytes)

Manusia koteka di Irja terdapat di Pegunungan Tengah seperti Paniai, Puncak Jaya, dan Jayawijaya (Wamena), tetapi manusia koteka dari Wamena menjadi primadona para wisatawan asing. Karena di daerah itu selain manusia koteka terdapat sejumlah obyek wisata yang menarik, perlengkapan hotel, dan akomodasi lainnya.

Manusia koteka tidak mengenakan pakaian, kecuali kulit buah dikenakan pada batang kemaluan. Itulah pakaian bagi mereka dan diakui menurut adat setempat. Mereka melakukan aktivitas di mana saja dengan pakaian koteka.

Kehadiran manusia koteka di kota-kota kabupaten seakan berlomba-lomba sebelum krisis moneter mendera Indonesia. Setiap hari antara 10-50 wisatawan asing berkeliaran di dalam kota. Manusia koteka memanfaatkan kehadiran wisatawan asing untuk mendapatkan rezeki.

Kepala Seksi Pelayanan Informasi Dinas Pariwisata Irja, Dra Fidella Retob mengatakan, biaya potret manusia koteka sangat menggiurkan mereka. Satu kali potret dihargai antara Rp 5.000-Rp 25.000. Ini tarif resmi diminta manusia koteka. Tetapi, banyak pengunjung memberi lebih dari itu, karena ada rasa belas kasihan terhadap penampilan mereka.

Manusia koteka ini tahun 1998 dieksposekan ke Jepang, yang kemudian mendapat tanggapan miring dari berbagai pihak. Belakangan ada imbauan dari para tokoh adat agar manusia koteka jangan lagi ditonjolkan pada event-event besar, kalau pemerintah Indonesia ingin membangun kesejahteraan dan merubah pola hidup mereka.

Tahun 1970-1995, kehadiran manusia koteka sangat disenangi pengunjung dan juga manusia koteka sendiri. Mereka dengan sengaja berdiri di tempat-tempat umum di Wamena guna dipotret dan mendapatkan jasa antara Rp 5.000-Rp 10.000 sekali potret.

Hampir semua manusia koteka di desa terpencil di Jayawijaya berkumpul di Wamena. Mereka tampil dengan aksesori beraneka ragam sesuai pakaian adat pedalaman. Ada macam-macam hiasan dari alat-alat tradisional masyarakat setempat di sekujur tubuh, kecuali pakaian umum.

Walau tidak berpakaian, tetapi penampilan mereka menunjukkan mereka orang beradab. Koteka adalah pakaian mereka, sesuai budaya dan pola pikir masyarakat setempat.

Meluasnya penyebaran koteka dan mendapat perhatian dari para wisatawan asing, menyebabkan warga di beberapa kabupaten yang tadinya tidak mengenakan koteka, mulai ikut-ikutan mengenakan koteka. Di Bandara Sentani Jayapura, orang mulai tampil dengan koteka di bandara saat pesawat mendarat.

Kehadiran manusia koteka dengan perlengkapan tradisional seperti panah, parang dan tombak, serta sejumlah perhiasan di kepala mendapat perhatian dari para wisatawan. Tidak sedikit wisatawan asing kemudian membeli koteka, hiasan kepala yang berbuat dari bulu burung cenderawasih, ukiran asmat, dan seterusnya.

***

AKAN tetapi, kejayaan masa lalu koteka perlahan runtuh. Ini berawal dari peristiwa penyanderaan warga negara asing tahun 1996 yang bekerja di Taman Nasional Laurentz oleh organisasi papua merdeka (OPM). Penyanderaan tersebut tersebar ke seluruh pelosok dunia, berikut surat larangan dari Pemerintah RI agar turis asing tidak boleh masuk Irja.

Kemudian tahun 1997 badai krisis ekonomi menimpa negeri ini, membuat semua roda perputaran dunia kepariwisataan macet. Walau demikian masih ada sejumlah wisatawan asing datang ke Wamena melihat manusia koteka dan mengikuti Festival Baliem.

Ketika Timor Timur merdeka (1999), aspirasi kemerdekaan Irja pun makin gencar. Kegiatan politik mulai di Jayapura sampai ke pelosok pedalaman termasuk masyarakat Jayawijaya, yang berlanjut dengan tindakan kriminal, kerusuhan, dan pembunuhan membuat para wisatawan asing makin takut masuk Irja.

"November 2000 sekitar 25 wisatawan dari Jerman ingin masuk Wamena. Mereka ingin mengunjungi daerah itu karena dari informasi yang diperoleh, sangat baik. Mereka ingin lihat langsung. Tetapi awal Oktober 2000 terjadi pembantaian terhadap warga pendatang sampai ada pelarangan masuk ke Wamena beberapa pekan. Para wisatawan pun batal masuk Wamena," kata Retob.

Setelah kasus Wamena berdarah, berikut terjadi keributan bentrok anggota TNI dan Brimob di Wamena bulan Januari 2001 membuat situasi makin tegang. Kemudian dilanjutkan dengan penyanderaan di Merauke terhadap warga negara Korea Selatan oleh OPM.

Menurut Retob, krisis ekonomi yang berkepanjangan sebenarnya bukan penghalang utama bagi para wisatawan asing, tetapi justru semakin menguntungkan mereka karena nilai dollar AS jauh lebih tinggi. Mereka mendapat keuntungan besar dalam kunjungan ke Indonesia.

"Faktor paling menentukan adalah keamanan. Keamanan itu harus benar-benar terjamin pada dua titik yakni Jakarta dan daerah tujuan seperti Irja. Karena semua wisatawan ke Irja selalu melalui Jakarta," ujar Retob.

Pusat koteka di Wamena pun saat ini tidak mendapat tanggapan dan perhatian dari pemerintah. Kunjungan wisatawan asing hampir tidak ada sama sekali sejak tahun 1996, saat terjadi penyanderaan di Mapenduma.

Kesepian wisatawan asing mengunjungi Irja, menyusul larangan resmi dari pemerintah mengenai kehadiran wisatawan asing pada tahun 1996. Saat itu tidak ada lagi wisatawan asing datang ke Irja.

Sekitar 117 hotel di Irja dengan 2.896 kamar sebelum tahun 1996 dipadati tamu. Kini hotel-hotel ini tampak sepi bahkan beberapa hotel telah berubah fungsi menjadi cafe, bar, restauran, dan warung makan.

Menurut Kadis Pariwisata Irja, Abner Kambuaya sebelum krisis menimpa bangsa ini setiap pesawat mendarat di Bandara Wamena, manusia koteka mulai memperkenalkan diri secara adat guna menjemput para tamu. Mereka tampil sebagai salah satu dari sekian obyek wisata di daerah itu.

Mereka menunggu dipotret bersama tamu atau diajak berdialog. Tidak heran masyarakat Wamena sebagian besar bisa berbahasa Inggris ala kadarnya untuk mengantar tamu ke hotel-hotel dan sekitar Kota Wamena.

Sebagai pusat pariwisata di pedalaman, Wamena didandani dengan program becak di seluruh kota. Tercatat 500 becak menghiasi Kota Wamena dengan luas 50 kilometer persegi. Sebelum krisis tarif becak jauh dekat dalam Kota Wamena Rp 3.000-Rp 5.000 dan sekarang menjadi Rp 10.000 sekali perjalanan.

Pengayuh becak dipercayakan kepada semua pemuda Wamena yang belum mendapatkan pekerjaan. Mereka juga dipaksa untuk bisa mengerti bahasa Inggris agar bisa mengantar para wisatawan di dalam Kota Wamena.

Saat ini tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke Wamena. Sebelum pecah kerusuhan ada 5-10 wisatawan per bulan masih masuk Wamena. Namun, setelah pembantaian terhadap warga pendatang di Wamena Oktober 2000, wisatawan asing pun urung datang ke Wamena.

***

RETOB menjelaskan, sebelum terjadi penyanderaan di Mapenduma terhadap aktivis lingkungan hidup yang sedang mengadakan penelitian di Taman Nasional Laurentz, setiap hari antara 10-50 wisatawan asing datang di Irja. Mereka sebagian besar dari Eropa.

"Sebelum ke Bali mereka pasti singgah di Irian Jaya. Karena di daerah memiliki obyek wisata masih sangat asli, belum diolah dengan teknologi modern. Mereka sangat suka kondisi seperti itu. Ada penerbangan langsung dari Los Angeles menuju Biak, tetapi kemudian dihentikan pada masa krisis," tuturnya.

Daerah-daerah pantai yang tenang dan asri sangat digemari para wisatawan, apalagi kehidupan masyarakat masih sangat asli dan polos. Mereka tidak mau diatur dengan kehadiran teknologi modern. Para wisatawan ini lebih suka mengambil tempat-tempat sunyi, alamiah dan sederhana untuk bersenang, membaca, dan menenangkan segala beban pikiran.

Ribuan obyek wisata di 14 kabupaten/Kota Irja dikunjungi para wisatawan. Tetapi, kabupaten terbesar mendapat kunjungan para wisatawan yakni Wamena dan Asmat. Kedua daerah ini tidak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan asing.

Biasanya para wisatawan ini mencarter pesawat ke Wamena atau Asmat. Pergi-pulang ongkosnya antara Rp 10 juta-Rp 15 juta sebelum krisis moneter. Mereka juga tidak tanggung-tanggung mencarter boat cepat ke daerah-daerah yang mereka ingin tuju.

"Rata-rata wisatawan yang ingin datang ke Irja adalah mereka yang memiliki dana besar. Mereka tahu masuk Irja semata-mata mengandalkan pesawat, dan banyak daya tarik di daerah ini. Karena itu walau jumlah mereka hanya beberapa orang, tetapi mereka berada di daerah ini sampai satu-dua bulan bahkan ada yang sampai tahunan," kenang Retob bangga.

Kehadiran para wisatawan di daerah ini tidak saja menguntungkan jasa penerbangan, tetapi juga jasa hotel, transportasi darat, barang kebutuhan hidup, suvenir tradisional, dan jasa-jasa lainnya. Penduduk asli dapat menjual kerajinan tradisional kepada para wisatawan dengan keuntungan besar.

Jumlah kunjungan wisatawan asing terbesar mencapai puncaknya tahun 1997 sebanyak 97.000 orang. Walau jumlahnya lebih kecil dibanding dengan Bali dan provinsi lain, tetapi para wisatawan yang datang adalah mereka yang berduit.

Menurut Retob setelah pelarangan kedatangan para wisatawan asing di Irja (1996) oleh pemerintah, menyusul penyanderaan di Mapenduma, kemudian dilanjutkan dengan krisis moneter, industri pariwisata di Irja mati lunglai, tak berdaya. Daerah-daerah tertentu yang tadinya sangat bergantung pada kehadiran wisatawan asing menjadi sepi dan sunyi.

Bupati Puncak Jaya, Philip Coem menambahkan, di Kabupaten Puncak Jaya sebelum krisis hampir tiap hari puluhan bahkan ratusan wisatawan asing memanjat tebing menuju puncak Cartenz. Mereka masuk mengambil gambar salju abadi dan tinggal berjam-jam di dalam salju tersebut.

Setelah bosan mereka turun menemui penduduk-penduduk asli di sekitar puncak Cartenz untuk mencari makanan. Penduduk sekitar sudah menyiapkan kebutuhan para wisatawan seperti kelapa muda dan makanan tradisional yakni umbi-umbian.

Para wisatawan suka mengonsumsi makanan di daerah pedalaman. Mereka sangat akrab bergaul dengan masyarakat sekitar.

"Pendapatan asli daerah kami hanya datang dari wisatawan, tetapi setelah wisatawan dilarang masuk Puncak Jaya kami akhirnya tidak punya apa-apa lagi. Kami tidak punya pajak jenis apa pun di daerah ini," kata Coem.

Sementara itu, tokoh masyarakat Asmat Philip Awang menuturkan, sejak terjadi pelarangan wisatawan asing masuk Irja perlahan-lahan ukiran di Asmat mulai merana, tidak laku.

Masyarakat mulai berhenti melakukan aktivitas mengukir dan memahat. Karena hasil karya mereka tidak dibeli orang. Tadinya wisatawan asing tersebut membeli berbagai ukiran khas Asmat dengan harga antara Rp 100.000 sampai Rp 2 juta per jenis ukiran.

"Dulu kami sangat jaya, tetapi sekarang pekerjaan yang diwariskan nenek moyang kami menjadi merana. Sekarang kami kembali miskin seperti tahun 1960-an. Kini kita hanya mempunyai kenangan indah masa kejayaan manusia koteka dan ukiran asmat. Semuanya telah runtuh," tambahnya. (kor)

 

TULISAN LAIN:

 

logo_bawah.gif (4648 bytes)
Last Updated: 09/04/01 - Copyright 2000 Uni Sosial Demokrat