logo_artikel_kiri_1.gif (1182 bytes) logo_artikel_tengah_1.gif (2324 bytes)
logo_artikel_kiri_2.gif (4673 bytes) logo_artikel_tengah_2.gif (11551 bytes)
logo_artikel_tengahb_1.gif (1244 bytes)
Kumpulan Tulisan Belajar Politik Program Khusus Database Sumber Informasi

 


Lelah di Puncak Grasberg, Lupakan di Timika

Kompas, 30 Mei 2001

 


BEKERJA dengan disiplin tinggi, konsentrasi penuh dan menggunakan daya nalar sepanjang hari tentu sangat melelahkan daya pikir. Orang cepat jenuh, bosan dan lelah dengan diri sendiri, sesama dan lingkungan sekitar. Suasana itu yang terjadi di pusat pertambangan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Selama empat jam berada di puncak pertambangan di puncak pegunungan Grasberg beberapa waktu lalu, Kompas merekam sejumlah pengalaman. Semua pekerjaan di daerah itu butuh konsentrasi tinggi dan jangan pernah ada kata keliru dari setiap tindakan. Semuanya mesti pasti, tepat, jelas, dan bermanfaat.

Pekerjaan sekecil apa pun menjadi ukuran dalam prestasi, honor dan kedudukan. Honor yang lumayan besar dengan berbagai gratifikasi dan tunjangan membuat orang sangat hati-hati bertindak, berbicara, dan mengekspresikan diri.

Semua irama kehidupan harus bermuara pada kepentingan bisnis dan kebesaran perusahaan. Tetapi, tidak berarti manusia harus menjadi mesin, kecuali selama pekerja sendiri tidak menyadari dirinya adalah homo sapiens dan homo rationis bukan homo faber.

Tuntutan dedikasi tersebut membuat karyawan tidak betah bertahan sampai tiga-lima tahun berada di dalam jajaran kedisiplinan perusahaan. Mereka lebih banyak mengambil cuti ke luar daerah atau bagi karyawan di lapangan langsung, diberi kesempatan penyegaran di sekitar lokasi penambangan.

"Jangankan tiga-lima tahun, satu pekan saja kita sudah bosan, jenuh dan tidak betah tinggal di sini. Ada keinginan segera melepaskan diri dari semua kebosanan ini dan hidup bebas. Tetapi, ada rasa rindu yang makin kuat untuk menambah pengetahuan di pertambangan seperti di Freeport," kata seorang karyawan di daerah tambang.

Di Kota Tembagapura, sekitar 10 kilometer dari puncak Grasberg terdapat sebuah restoran dan karaoke yang disebut "Lupa Lelah". Di dalam ruangan itu, hampir setiap hari kaum ibu, istri karyawan duduk makan siang menghabiskan waktu di dalamnya. Perempuan Indonesia duduk mengambil tempat sendiri, sementara perempuan asing mengambil tempat lainnya lagi. Hampir seluruh waktu dihabisi di "Lupa Lelah".

Mereka seperti terbuang di tengah hutan belantara, diapit gunung batu Jayawijaya dengan ketinggian sampai 4.300 meter dari permukaan laut. Tidak ada hiburan, dan tetangga yang saling mengunjungi seperti layaknya hidup di perkampungan.

Sekitar 4.000 karyawan yang berada di ketinggian 2.900-4.300 meter mengalami nasib serupa. Rasa jenuh, bosan, lelah, dan capai menyelimuti irama kehidupan mereka.

Hari-hari yang terdengar di lokasi penambangan adalah bunyi desingan dan hingar bingar mesin, alat berat, truk raksasa dengan diameter ban tiga meter, cater pillar, buldozer, truk kontainer, dan seterusnya. Semuanya melaksanakan pekerjaan di bidangnya dengan tertib, disiplin, dan tanggung jawab tinggi.

Sedikit kekeliruan bisa berakibat fatal bagi keselamatan diri. Karena itu pada setiap tempat terpampang tulisan "Kerja sama yang baik menghindari kecelakaan. Keselamatan adalah segala-galanya". Pekerja setiap hari berhadapan dengan bukit batu, pipa besi panjang dan mesin pengerus batu raksasa, alat berat yang bergelantungan di sana sini, dikelilingi bukit dan gunung batu terjal.

Tidak terdengar suara burung di lokasi penggilingan biji batu menjadi konsentrate, disebut mile 74. Konon sebelum penambangan daerah ini terdapat satwa liar dan menjadi tempat perburuan penduduk suku di sekitarnya. Kini yang terdengar hanya kebisingan suara dari tiga mesin penghancur dan penghalus biji batu.

***

MENGATASI kejenuhan, dan menjaga agar terus bekerja maksimal perusahaan memberi kesempatan kepada setiap karyawan turun ke Kota Timika setiap akhir pekan. Mereka menyebutnya "tujuh dua" dari tujuh hari kerja, dua hari refreshing di Timika. Dua hari tersebut adalah hari Sabtu dan Minggu. Ini adalah kebijakan perusahaan menjaga kesehatan rohani dan jasmani karyawan. Mereka beramai-ramai diantar dengan bus yang disebut "bus kerinduan" dari Tembagapura ke Timika.

Kota Timika adalah pilihan paling tepat karena jaraknya sekitar 70 kilometer dari Tembagapura. Selain itu perusahaan juga memberi cuti bulanan kepada karyawan yang sudah lama bekerja di pertambangan.

Apa kegiatan karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) selama dua hari di Timika? Berada di luar areal PTFI merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu untuk mencari hiburan, bertemu anak-istri, sahabat kenalan dan melupakan segala kebosanan dan kejenuhan di Tembagapura dan Grasberg.

Seorang karyawan PTFI menyebutkan, melakukan apa saja di dalam Kota Timika, adalah urusan pribadi. Tetapi, jangan sampai kegiatan itu mengganggu pekerjaan di dalam perusahaan.

"Melakukan hubungan cinta, memiliki istri simpanan sampai berapa pun terserah Anda asal jangan mengganggu pekerjaan Anda. Jika sampai terjadi demikian, Anda akan dipecat," kata sumber itu.

Rasa lelah tetapi dijamin dengan gaji besar hampir membuat karyawan menyerah pada nasib. Mereka tetap pasrah bekerja dan jarang mengungkapkan perasaan jenuh kepada pimpinan.

Tidak heran bagi masyarakat Mimika umumnya dan Timika khususnya kalau malam Minggu ditemukan sejumlah mobil karyawan PTFI berwarna putih parkir di sejumlah tempat hiburan. Tony Kaleb salah satu tokoh pemuda di Timika menyebutkan, malam Minggu dan malam Senin Kota Timika dikuasai orang Freeport.

"Kami biasa menyebut hujan lokal di Kota Timika, artinya malam Minggu dan malam Senin orang Freeport turun ke kota dan terjadi pertemuan antara karyawan dengan perempuan yang bekerja di bar, hotel, dan pusat hiburan. Dua hari ini secara khusus dikuasai orang Freeport. (Kornelis Kewa Ama)

 

TULISAN LAIN:

 

logo_bawah.gif (4648 bytes)
Last Updated: 30/05/01 - Copyright 2000 Uni Sosial Demokrat