Anthony Giddens (1979) mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah unsur
konstitutif dari berbagai praktik sosial. Manusia adalah pelintas ruang dan
waktu. Pertama dengan teknologi, ruang dimampatkan dan waktu diperpendek.
Kemudian, dengan kedigdayaan nyaris-tak-tersentuh, hak milik pribadi dilepaskan
dari tanggung jawab sosial. Dan kapital pun melintasi ruang dan waktu dengan
volume dan kecepatan yang tak terbayangkan. Di satu sisi ia menawarkan segala
kenikmatan dan kenyamanan yang bersifat ontologis, yang tidak dinikmati
kakek-nenek moyang kita -handphone, internet, transportasi,
komunikasi, listrik, dll. Tetapi di sisi lain, berbagai ancaman hidup yang
sebelumnya tak pernah terbayangkan ada, juga makin jelas mengintai dan sudah
menerkam -meledaknya reaktor nuklir, file yang hilang di harddisk,
rusaknya lingkungan hidup, pemanasan global, HIV/AIDS, dll. Sebuah juggernaut
-truk raksasa yang berlari sangat kencang tanpa bisa dihentikan- kita semua ada
di dalamnya, menikmati segala kenyamanan itu, tetapi nyaris tak punya kuasa
untuk menghentikan lajunya yang mungkin saja akan menabrak sesuatu dan
menghancurkan semua yang ada di dalamnya. Itulah gambaran dunia dimana kita
hidup saat ini. Dunia yang berlari tunggang langgang. A Runaway World,
demikian Giddens (1992) kembali mengatakannya.
***
17 Agustus 1998 Uni Sosial Demokrat (UNISOSDEM) Jakarta berdiri. Dirintis dan
ditopang oleh semangat muda dari para pendirinya yang mendapatkan dukungan penuh
seorang aktivis kawakan, Bambang Warih
Koesoema. Cita-cita UNISOSDEM Jakarta dirumuskan dengan jelas: tatanan
hidup bersama di kepulauan Nusantara yang lebih berkeadilan. Bukan hanya pada
manusia, tetapi juga pada alam. "Manusia tidak hanya harus berbagi hidup
dengan 5 milyar penduduk bumi lainnya, tetapi juga dengan 50 juta spesies yang
bersama-sama meninggali bumi", itu semangatnya.
Namun, nampaknya tata-hidup bersama itu memang paradoksal. Di satu sisi, ia
jauh bagaikan sebuah cita-cita. Namun, ia toh juga sebenarnya sudah mengada.
Namun justru di sini soalnya: tata-hidup bersama macam apa yang kini ada dan
dihidupi?
Nampaknya ada banyak keruwetan yang dijumpai ketika berupaya mengurai soal
hidup-bersama ini. Apakah perkaranya kebijakan politik? Pembangunan Ekonomi?
Persoalan Budaya-Mental? Jawaban-jawaban yang diberikan acapkali lebih banyak
membawa kebingungan baru daripada menjelaskan. Sementara, di satu sisi data-data
ketidakadilan semakin bertumpuk, list korban bertambah panjang,
ledak-tangis yang terpinggirkan makin tak berkesudahan. Di sisi lain, berbagai
pelatihan analisis sosial, lokakarya, training, seminar, bahkan membangun
jaringan antar NGO, dll yang juga banyak diupayakan, seolah tak kunjung memberi
hasil yang konkrit.
Apa yang salah? Itulah yang mulai hendak diurai dalam dinamika di UNISOSDEM
Jakarta.
Sejak berdirinya, berbagai tulisan telah dirilis, upaya lobby dengan
pengambil keputusan dilakukan, pelatihan dilaksanakan dan jaringan dengan
berbagai NGO pun dilibati. Bahkan UNISOSDEM Jakarta mencoba menjejak eksistensi
di dunia cyber dengan melaunch website ini pada tahun 2000 sebagai
penyeranta arsip dan informasi bagi sejawat aktivis. Tapi nampaknya belum
semuanya terasa optimal. Bagai kecemplung dalam kubangan berisi
ribuan data dan informasi tentang berbagai hal, tangannya menggapai-gapai,
megap-megap, minta untuk dimaknai.
***
Setelah sejenak berefleksi, dibantu dengan sepenuh-hati oleh B.
Herry-Priyono, Ph.D., UNISOSDEM Jakarta mulai bisa memahami, bahwa apa
yang nampaknya luput dari wacana --dan karenanya juga berakibat pada luputnya
praksis-- adalah perkara adanya kekuasaan dalam tata-hidup bersama ini. Bukan
adanya kekuasaan itu yang menjadi soal, melainkan praktik kekuasaan
itu yang punya implikasi pada hidup bersama kita.
Kalau dulu (dan bahkan sampai sekarang) kita selalu merujuk pada negara
sebagai pemegang kekuasaan, hal itu bukanlah salah. Namun, tidak lengkap. Negara
bukanlah satu-satunya pemegang kekuasaan dalam hidup bersama kita saat ini. Ada
yang lain, yaitu kekuasaan kelompok-kelompok dalam masyarakat (komunitas) yang
tak tersentuh oleh kekuasaan negara. Dan jangan lupa, kekuasaan modal dan
bisnis. Yang terakhir inilah yang justru meruap-menyeruak secara luar biasa.
Komunitas dilibas dan digilas. Bahkan negara juga dicengkeram dan diambil alih
oleh besarnya kekuasaan modal. Jika dulu Thomas Hobbes menyebut negara sebagai
Leviathan karena demikian kuatnya bagai monster, B. Herry-Priyono menegaskannya
bahwa kekuasaan modal saat ini adalah Leviathan Baru (Kompas 3 Januari 2002,
The Jakarta Post 25 January 2002).
Maka, UNISOSDEM Jakarta mencoba tanggap dengan wacana ini. Sebuah proses yang
tidak mudah memang. Apalagi dengan konstruksi pikir yang sudah demikian dibentuk
oleh para proponen dari Neo-Liberal yang selalu menghadapkan "politik vs
ekonomi", "publik vs privat", bahkan lebih umum lagi "pro vs anti". Itulah
mengapa misalnya persoalan menghadapi globalisasi, bagi UNISOSDEM Jakarta,
bukanlah perkara menolak atau menerimanya. Melainkan, bagaimana menjadi peka dan
tanggap akan dinamika praktik kekuasaan dalam globalisasi itu sendiri. Dan kami
akui, ini bukanlah soal sederhana.
Menyederhanakannya demi praksis lapangan, UNISOSDEM Jakarta menghembuskan dan
menggencarkan apa yang disebut dengan "Paradigma Baru Demokratisasi &
Pemberdayaan Masyarakat Sipil". Apanya yang baru? Satu, bahwa demokrasi itu
bukan hanya perkara membuat akuntabelnya kekuasaan negara, tetapi juga berbagai
kekuasaan yang lain --saat ini: kekuasaan modal dan bisnis. Dua, bahwa
masyarakat sipil bukanlah sebuah tesis anti-negara, melainkan tesis anti-praktik
kekuasaan yang tidak akuntabel: termasuk kekuasaan negara, komunitas dan bisnis.
Apa yang sudah di kerjakan UNISOSDEM Jakarta?
a. Dalam 10 (sepuluh) bulan terakhir ini, sejak Tawangmangu Jawa Tengah 25-27
Nopember 2002 hingga Sanur Bali 12-14 Juli 2002, UNISOSDEM Jakarta (dan beberapa
kali dibantu oleh UNISOSDEM Solo)
sudah mengorganisir sejumlah semi-loka di berbagai daerah yang diikuti oleh
sejawat aktivis dari ujung barat Pulau Jawa higga propinsi Nusa Tenggara Timur.
Seluruhnya ada 70 (tujuhpuluh) kelompok mengirimkan wakilnya untuk berpartisipasi
dalam lokakarya dan merintis jaringan kerjasama. Semi-loka ini berfokus pada
upaya menyebarkan gagasan "baru" di atas dan mencari kemungkinan kerjasama
membidik Leviathan Baru itu. Sebuah Yayasan Jerman, FES
(Friedrich-Ebert Stiftung) ikut mendanai sebagian kegiatan semi-loka
ini.
b. Memberikan pengaruh kepada para pengambil keputusan di bidang eksekutif,
yudikatif dan legislatif mengenai berbagai kebijakan di bidang sosial-ekonomi-politik.
Pengaruh ini diberikan melalui lobby, siaran pers, kuliah publik dan
media masa. Pada bulan Juli 2002, UNISOSDEM Jakarta memberikan pokok-pokok pikiran
mengenai Format
Baru Politik Indonesia di Gedung DPR/MPR RI.
c. Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dalam jaringan dengan NGO lain di
dalam negeri maupun luar negeri. Kegiatan internasional terakhir adalah
berpartisipasi dalam PrepComIV di Bali Mei-Juni 2002 yang lalu dan Asia-Pacific
Network di Jakarta 22-24 Juli 2002.
d. Meneruskan dan mengembangkan website, www.unisosdem.org
yang kini sedang Anda kunjungi untuk tiga fungsi dasar: Pertama,
membangun database. Ada cukup banyak dan beragam data yang ada dalam
dokumentasi UNISOSDEM Jakarta yang bisa diakses secara on-line di website
ini. Namun masih ada banyak lainnya yang berupa hard-copy yang tersedia
di kantor/sekretariat UNISOSDEM Jakarta. Menjadikan semuanya on-line adalah
keinginan kami, namun kami harus realistis dengan konstelasi sumber daya yang
ada pada kami. Kedua, membangun searchable-archiving system
dalam website ini. Situs baru UNISOSDEM Jakarta ini adalah situs berbasis database-engine
yang memungkinkan semua pengunjung situs melakukan pencarian berbagai artikel
yang dikliping oleh UNISOSDEM Jakarta dari berbagai sumber (majalah, koran,
jurnal, dll). Ketiga, membangun reporting-system. UNISOSDEM
Jakarta ingin menunjukkan bahwa transparansi dalam konteks 'good governance'
di NGO itu mungkin dan bahkan harus dilakukan. Meskipun NGO tidak mendapatkan
uang dari rakyat, namun NGO perlu mempertanggungjawabkan aktivitasnya bukan
hanya pada donatur, melainkan juga stake-holder utamanya, yaitu rakyat.
Seluruh laporan kegiatan UNISOSDEM Jakarta, termasuk laporan keuangan, bisa
dilihat dan diakses oleh semua pengunjung website ini.
Apa yang akan dikerjakan dalam waktu-waktu mendatang?
a. Meneruskan rangkaian semi-loka yang sudah dimulai sejak Nopember 2001
tersebut di atas. UNISOSDEM Jakarta mengagendakan untuk menyelenggarakan
semi-loka di beberapa daerah seperti di Sumatera (Medan), Kalimantan
(Pontianak), Irian Jaya (Nabire, Jayapura), Flores (Ende).
b. Memaintain jaringan NGO yang sudah berpartisipasi dalam seluruh rangkaian
semi-loka. Secara konkrit UNISOSDEM Jakarta bersama-sama dengan Yayasan
SAMADI Solo memprakarsai berdirinya Business Watch Indonesia
yang berkedudukan di kota Solo, Jawa Tengah. UNISOSDEM Jakarta mendukung penuh
kegiatan BWI dan mempromosikannya ke Jaringan Internasional yang dipunyai UNISOSDEM
Jakarta. BWI saat ini setidaknya bergerak atas dukungan penuh dari UNISOSDEM
Solo, SAMADI Solo, PUSDAKOTA
Surabaya.
c. Tetap turut mempengaruhi kebijakan publik di bidang yudikatif, eksekutif
dan legislatif melalui lobby dan diseminasi pikiran dan gagasan. Publikasi
poluler juga dilakukan melalui media massa umum maupun terbatas.
d. Mengorganisir pelatihan politik dasar bagi aktivis-aktivis muda (18-27
tahun) di P. Jawa (dan semoga: luar Jawa!) yang basis aktivitasnya ada di
Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogya, Solo, Surabaya dan Malang.
e. Berpartisipasi dalam kegiatan bersama NGO lain di dalam dan di luar
negeri. Kegiatan dalam jaringan NGO dalam negeri terutama dalam jaringan yang
diorganisir oleh Institute for Global Justice (IGJ) dan INFID.
Sedangkan kegiatan di luar negeri yang terdekat adalah Lokakarya mengenai
Women & Politics di Thailand pada bulan September 2002 dan menjadi
observer dalam pembicaraan mengenai bantuan Pemerintah Uni Eropa ke
Indonesia di Copenhagen, juga pada September 2002.
f. Mengupdate arsip, database dan informasi yang ada dalam website. Website
ini diupgrade secara resmi dan diluncurkan pada hari ini, 17 Agustus
2002, untuk merayakan Ulang Tahun UNISOSDEM Jakarta. Ucapan terimakasih tulus
UNISOSDEM Jakarta pada Tim ELS
yang membuat upgrading ini menjadi mungkin.
***
Empat tahun bukanlah usia yang muda lagi bagi sebuah organisasi swadaya.
Karenanya, empat tahun pengalaman dalam jatuh-bangun bergelimang dalam problema
organisasional adalah modal untuk bergerak lebih cermat, cerdik dan lincah.
Dalam segala keterbatasannya, UNISOSDEM Jakarta yang kini berusia 4 tahun harus
berbenah diri. Bukan hanya secara teknis-administratif, melainkan dalam
menentukan arah.
Dan meski berat dan tidak mudah, arah itu sudah dicanangkan. Secara mendasar,
arah itu adalah mengenali berbagai pusat dan kausalitas kekuasan yang ada dalam
tata-hidup bersama masyarakat kita. Dan dalam kontingensi sejarah saat ini,
pilihan kami adalah membidik Leviathan Baru itu.
Selamat untuk Ulang Tahun ke-4 UNISOSDEM Jakarta,
Selamat untuk kita semuanya.
Salam Demokrasi
Yanuar Nugroho
Sekretaris Jenderal
|